Vira
Aku selalu hidup dalam khayalanku,
dalam dongeng-dongeng yang selalu dibacakan bunda ketika usiaku masih belia.
Cerita mengenai Putri dan Pangeran berkuda putih selalu menjadi kisah
favoritku. Terbawa dalam setiap mimpi-mimpiku bahkan ketika aku mulai beranjak
remaja. Tak sedikitpun kisah-kisah itu memudar dari memoriku, sebaliknya aku
justru mulai menginginkan kisah seperti dongeng-dongeng itu. Seorang Putri
kerajaan yang dijemput pangeran tampan berkuda putih. Sahabat-sahabatku tak
kuat menahan tawa setiap kali aku bercerita tentang keinginanku. Katanya aku
terlalu kekanakan tidak mengerti mana yang nyata dan mana yang khayalan. Tapi
apa peduliku, biarlah mereka berkata, toh ini mimpiku, dongengku sendiri. Aku
sendiri lah yang akan menulis kisahku, dongengku dan pangeran berkuda ku.
Pria itu datang menjemputku. Dengan
kuda putih yang bersinar indah ia tersenyum mengulurkan tangannya meraihku. Aku
dengan malu-malu menerima uluran tangannya, ikut naik di kuda putih indahnya.
Pria itu tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya. Di kedua pipinya terdapat
lesung yang justru membuatnya makin menawan. Ia membisikan sebuah kata di
telingaku membuat wajahku merona. Tanpa membuang waktu, ia menghentak tali yang
mengekang kudanya membawaku pergi jauh. Kami tertawa-tawa bahagia, namun
mendadak kebahagiaan itu sirna ketika aku terjatuh dari kuda putih itu.
“
Aw!” aku berseru kesakitan. Aku mengerjapkan mata setengah sadar. Kemana
pangeran dan kuda putih tadi? Otakku kupaksa bekerja meskipun masih dalam tahap
booting. Aku mengeluh pelan begitu
menyadari apa yang terjadi. Mimpi. Aku mengumpat pelan, kalau saja aku tidak
terjatuh dari kasur, pastilah aku dan pangeran dalam mimpiku sudah mencapai happy ending never lasting. Aku
mengelus-elus kepalaku yang masih terasa sakit karena terbentur lantai. Aku
mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan
tepatnya ke sebuah jam dinding yang tergantung manis. Jarum jam masih
menunjukan angka 05.30. Dengan malas aku menyeret kakiku ke kamar mandi. Kalau
tidak mandi sekarang, bisa-bisa aku terlambat ke sekolah.
“
Selamat pagi bunda.” sapaku begitu kulihat sosok bunda yang tengah menyiapkan
sarapan. Bunda. Bunda melirikku sekilas mengulas senyum manisnya tanpa menjawab
salamku. Aku langsung duduk di kursi tanpa diminta. Ayah datang tak lama
kemudian.
“
Bagaimana sekolahmu Vira?” tanya Ayah seperti biasa. Aku hanya mengangguk pelan
masih berusaha mengunyah nasi goreng yang dihidangkan bunda.
“
Baik Yah, Vira sekarang ikut ekskul drama.” jawabku masih mengunyah sisa-sisa
makanan. Ayah hanya mengangguk pelan.
“
Boleh saja kamu ikut ekskul, tapi jangan lupa belajarmu. Dan juga kurangi
membaca buku-buku yang tidak bermanfaat.” Aku hanya nyengir lebar. Tentu saja
aku tahu apa yang dimaksud ayah dengan buku-buku tidak bermanfaat. Yang pasti
Ayah merujuk pada sederetan buku-buku dongenku yang tersimpan rapi di lemari.
“
Ayah Bunda Vira berangkat ke sekolah dulu.” kataku setelah sepiring nasi goreng
habis kumakan. Aku menyalami Ayah dan Bunda kemudian pergi ke sekolah.
“
Pagi Vira!” sapa seseorang saat aku sampai di gerbang sekolah. Aku menengok ke
arah suara yang memanggilku, sedikit terkejut melihat sosok itu. Kak Denis,
ketua ekskul dramaku tengah tersenyum manis melambaikan tangannya. Rambutnya
yang hitam sedikit gondrong tersapu oleh angin yang berhembus pelan. Aku
sedikit membeku melihat senyuman Kak Denis yang memang begitu menawan. Terdapat
dua lesung pipit di kedua pipinya membuatnya begitu manis ketika sedang
tersenyum, apalagi sifatnya yang begitu baik dan lembut pada semua orang. Ia
seperti seorang pangeran yang selama ini kucari.
“
Hai Kak Denis!” sapaku basa-basi. Seperti biasa ketika aku berada di dekatnya,
aku tidak bisa mengontrol debaran di dada bagian kiriku. Jantungku selalu saja
berdetak begitu kencang ketika aku berbicara dengan Kak Denis. Terkadang bahkan
udara rasanya menghilang menyisakan kesesakan membuatku sukar bernapas.
“ Jangan
lupa nanti datang latihan, ada casting untuk penampilan terbaru ekskul drama.”
Aku mengacungkan kedua jempolku setuju, tak mampu menjawab dengan kata-kata.
Bibirku terlalu kelu.
Sepanjang pagi aku tidak dapat
berkonsentrasi kepada pelajaran sekolah. Semua kata-kata guru hanya bergaung di
telingaku tak dapat kesempatan untuk masuk ke telingaku. Pikiranku terlalu
penuh. Sebagian oleh dongeng-dongeng kisahku, sebagian oleh Kak Denis. Aku baru
saja mengenalnya tak lebih dari tiga bulan yang lalu. Tapi entah mengapa
sosoknya akhir-akhir ini selalu membuatku tidak karuan. Berdetak tidak karuan,
gugup tidak karuan dan yang paling parah membuatku gagap dan kehilangan segala
kata-kataku. Kadang melihatnya mengingatkanku pada sosok pangeran yang hadir
dalam mimpiku, terutama lesung di kedua pipinya. Sesaat aku tersadar, kenapa
aku berusaha memiripkan Kak Denis dengan Pangeran dalam mimpiku? Wajahku
mendadak memanas. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Ini tidak mungkin
terjadi. Kak Denis memang keren, manis dan baik tapi ia tidak seperti Pangeran
idamanku. Tidak mungkin aku menyukai Kak Denis. Tidak mungkin!
Bersambung....
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar