Kamis, 22 Oktober 2015

The Princess Of Tale Part 1



Vira
Aku selalu hidup dalam khayalanku, dalam dongeng-dongeng yang selalu dibacakan bunda ketika usiaku masih belia. Cerita mengenai Putri dan Pangeran berkuda putih selalu menjadi kisah favoritku. Terbawa dalam setiap mimpi-mimpiku bahkan ketika aku mulai beranjak remaja. Tak sedikitpun kisah-kisah itu memudar dari memoriku, sebaliknya aku justru mulai menginginkan kisah seperti dongeng-dongeng itu. Seorang Putri kerajaan yang dijemput pangeran tampan berkuda putih. Sahabat-sahabatku tak kuat menahan tawa setiap kali aku bercerita tentang keinginanku. Katanya aku terlalu kekanakan tidak mengerti mana yang nyata dan mana yang khayalan. Tapi apa peduliku, biarlah mereka berkata, toh ini mimpiku, dongengku sendiri. Aku sendiri lah yang akan menulis kisahku, dongengku dan pangeran berkuda ku.
Pria itu datang menjemputku. Dengan kuda putih yang bersinar indah ia tersenyum mengulurkan tangannya meraihku. Aku dengan malu-malu menerima uluran tangannya, ikut naik di kuda putih indahnya. Pria itu tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya. Di kedua pipinya terdapat lesung yang justru membuatnya makin menawan. Ia membisikan sebuah kata di telingaku membuat wajahku merona. Tanpa membuang waktu, ia menghentak tali yang mengekang kudanya membawaku pergi jauh. Kami tertawa-tawa bahagia, namun mendadak kebahagiaan itu sirna ketika aku terjatuh dari kuda putih itu.

            “ Aw!” aku berseru kesakitan. Aku mengerjapkan mata setengah sadar. Kemana pangeran dan kuda putih tadi? Otakku kupaksa bekerja meskipun masih dalam tahap booting. Aku mengeluh pelan begitu menyadari apa yang terjadi. Mimpi. Aku mengumpat pelan, kalau saja aku tidak terjatuh dari kasur, pastilah aku dan pangeran dalam mimpiku sudah mencapai happy ending never lasting. Aku mengelus-elus kepalaku yang masih terasa sakit karena terbentur lantai. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan  tepatnya ke sebuah jam dinding yang tergantung manis. Jarum jam masih menunjukan angka 05.30. Dengan malas aku menyeret kakiku ke kamar mandi. Kalau tidak mandi sekarang, bisa-bisa aku terlambat ke sekolah.
            “ Selamat pagi bunda.” sapaku begitu kulihat sosok bunda yang tengah menyiapkan sarapan. Bunda. Bunda melirikku sekilas mengulas senyum manisnya tanpa menjawab salamku. Aku langsung duduk di kursi tanpa diminta. Ayah datang tak lama kemudian.
            “ Bagaimana sekolahmu Vira?” tanya Ayah seperti biasa. Aku hanya mengangguk pelan masih berusaha mengunyah nasi goreng yang dihidangkan bunda.
            “ Baik Yah, Vira sekarang ikut ekskul drama.” jawabku masih mengunyah sisa-sisa makanan. Ayah hanya mengangguk pelan.
            “ Boleh saja kamu ikut ekskul, tapi jangan lupa belajarmu. Dan juga kurangi membaca buku-buku yang tidak bermanfaat.” Aku hanya nyengir lebar. Tentu saja aku tahu apa yang dimaksud ayah dengan buku-buku tidak bermanfaat. Yang pasti Ayah merujuk pada sederetan buku-buku dongenku yang tersimpan rapi di lemari.
            “ Ayah Bunda Vira berangkat ke sekolah dulu.” kataku setelah sepiring nasi goreng habis kumakan. Aku menyalami Ayah dan Bunda kemudian pergi ke sekolah.
            “ Pagi Vira!” sapa seseorang saat aku sampai di gerbang sekolah. Aku menengok ke arah suara yang memanggilku, sedikit terkejut melihat sosok itu. Kak Denis, ketua ekskul dramaku tengah tersenyum manis melambaikan tangannya. Rambutnya yang hitam sedikit gondrong tersapu oleh angin yang berhembus pelan. Aku sedikit membeku melihat senyuman Kak Denis yang memang begitu menawan. Terdapat dua lesung pipit di kedua pipinya membuatnya begitu manis ketika sedang tersenyum, apalagi sifatnya yang begitu baik dan lembut pada semua orang. Ia seperti seorang pangeran yang selama ini kucari.
            “ Hai Kak Denis!” sapaku basa-basi. Seperti biasa ketika aku berada di dekatnya, aku tidak bisa mengontrol debaran di dada bagian kiriku. Jantungku selalu saja berdetak begitu kencang ketika aku berbicara dengan Kak Denis. Terkadang bahkan udara rasanya menghilang menyisakan kesesakan membuatku sukar bernapas.
            “ Jangan lupa nanti datang latihan, ada casting untuk penampilan terbaru ekskul drama.” Aku mengacungkan kedua jempolku setuju, tak mampu menjawab dengan kata-kata. Bibirku terlalu kelu.
Sepanjang pagi aku tidak dapat berkonsentrasi kepada pelajaran sekolah. Semua kata-kata guru hanya bergaung di telingaku tak dapat kesempatan untuk masuk ke telingaku. Pikiranku terlalu penuh. Sebagian oleh dongeng-dongeng kisahku, sebagian oleh Kak Denis. Aku baru saja mengenalnya tak lebih dari tiga bulan yang lalu. Tapi entah mengapa sosoknya akhir-akhir ini selalu membuatku tidak karuan. Berdetak tidak karuan, gugup tidak karuan dan yang paling parah membuatku gagap dan kehilangan segala kata-kataku. Kadang melihatnya mengingatkanku pada sosok pangeran yang hadir dalam mimpiku, terutama lesung di kedua pipinya. Sesaat aku tersadar, kenapa aku berusaha memiripkan Kak Denis dengan Pangeran dalam mimpiku? Wajahku mendadak memanas. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Ini tidak mungkin terjadi. Kak Denis memang keren, manis dan baik tapi ia tidak seperti Pangeran idamanku. Tidak mungkin aku menyukai Kak Denis. Tidak mungkin! 

Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar