Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 November 2015

Memeluk Kesendirian



Malam ini sama seperti malam-malam yang sebelumnya
Dingin menusuk tulang
Meski angin tak bertiup kencang, meski gemintang dan bulan bersemangat menerangi langit
Aku tetap meringkuk memeluk kesendirian
Bilapun cahaya bulan purnama menerangi pun tak mampu menghangatkanku
Jiwaku sudah terlanjur membeku menjadi gletser yang tidak dapat dicairkan
            Kesendirian ini telah membekukan segala jiwaku
            Mentari yang seharusnya mampu mencairkan gletser itu telah padam untuk selamanya
            Menghilang ditelan gerhana total yang mengerikan
            Gelap gulita
Andaikan bulan purnama datang

Selasa, 10 November 2015

Pelangi

Saat hujan telah berakhir
Meninggalkan butiran-butiran lembut airnya
Semburat bauran cahaya
Dalam tujuh warnanya menghiasi
Langit yang mulai bercahaya

Senin, 09 November 2015

Aku, Kau, Ia dan Perjuangan



Di tanganmu tergenggam senjata
Meski bukan pemusnah massal, tak hentinya engkau berjuang
Demi sebuah kata dan pengakuan kau beranikan diri
Tak peduli berapa ribu peluru menghujam kau tetap menerjang
Berdiri tegak di kaki sendiri, itulah yang kau harap
            Meski ribuan musuh menyerang kau tetap tegak berdiri
            Meski terluka terkoyak tak henti langkahmu  tuk berjuang
            Teriakan-teriakan penyemangat membahana langit luas
            Merdeka-merdeka-merdeka
            Meski hanya satu kata yang dituju

Minggu, 08 November 2015

Hujan



Lelah menunggu tak kunjung datang
Telah kering kerontang tenggorokan
Menjerit-jerit semua orang, memohon, tersiksa
Laksana pahlawan kedatanganmu ditunggu banyak orang

Senin, 02 November 2015

Kalau Saja



Kalau saja kumampu
Ingin rasanya tangan ini menggapaimu
Merasakan kehangatan
Diujung syaraf terdinginku
            Kalau saja kubisa
            Ingin rasanya kugenggam tanganmu
            Membawa nirwana ke telapak tanganmu
Kalau saja kumampu
Ingin kubawa duniaku ke hadapmu
Biar kau pulihkan warna-warna yang telah mati
Ditelan kehampaan, keputusasaan

Sabtu, 31 Oktober 2015

Aku Rindu

Sepasang mata itu menusuk hatiku
Senyuman yang terukir di wajahmu
Masih terpatri jauh di dalam hatiku
Tapi tak ada engkau di sini
Ragamu tak dapat dijangkau jiwamu terlalu rapuh untuk kugapai
 Berteriak menjerit tak ada arti
 Kau tak ada di sini dan kau tak mampu kuraih
 Hanya berteman angan, ilusi dirimu semata, percuma
Aku merindumu..
Tapi apa daya dirimu terlalu jauh untuk kusentuh
Meski rasanya dekat, nyatanya kita bagai beda dimensi
Tak mungkin memandang apalagi bertemu
 Aku merindumu
 Setiap nada merdu yang keluar dari bibirmu
 Yang setiap saat membisiku, menghangatkan jiwaku
Aku merindumu...
Tertawa bersamamu
Masa-masa yang kita lewati dulu
Mungkinkah bagi sang waktu
Kembalikan kita seperti dulu
 Aku merindumu
 Meski hanya kata tak terucap kuingin bertemu
 Mengatakan padamu aku rindu

Minggu, 25 Oktober 2015

Aku dan Mereka



Terduduk tergugu dalam sepi, gelap menyelimuti
Merayap tangan ini berusaha menggapi setitik cahaya
Hampa
            Dimana aku sekarang, tak ada yang tau
            Sendirian tanpa kawan terkekang dalam aturan
            Siapa aku ini, tak ada yang menjawab
            Berbagai kepribadian saling berganti, hilang silih datang
            Berbagai topeng dipakai di wajah menyembunyikan warna asli       
            Memuakan
Ingin kupecah semuanya, ingin kuhilangkan kegelapan ini
Ingin kuputus rantai aturan ini, biar semua bisa kembali
Ingin ku rusak topeng-topeng mereka
Biar kuinjak tunjukan warna asli semua
            Sayang sendiri aku berdiri
            Terlalu nyaman mereka dikekang, dirantai dalam aturan
            Sayang, aku pun tak miliki warna, tansparan  tak terlihat
            Mereka dan mereka ah..................
            Terlalu lama bersembunyi di balik topeng-topeng
            Mungkin tak ada lagi wajah di baliknya

Rabu, 21 Oktober 2015

Waktu



Banyak yang berharap, begitu banyak yang memohon
Namun tak akan pernah terwujudkan
Ia tak akan pernah kembali
Maju hanyalah pilihannya tak ada kata mundur dalam kamusnya,
Begitu juga dengan berhenti
Tak pernah berlari, selalu bergerak dalam irama yang sama
Nada-nadanya ketika bergerak selalu sama, merdu namun memabukan
Mematikan bagi yang tak pernah menyadarinya.