Jumat, 23 Oktober 2015

The Princess Of Tale part 2



Latihan drama berjalan seperti biasa. Hari pertunjukan semakin dekat, dan tanpa terasa hari ini adalah hari pertunjukan. Aku mematut bayanganku di cermin. Gaun yang kugunakan sebagai kostum telah melekat di tubuhku. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan berusaha mengusir rasa gugup yang sedari tadi menguasaiku. Ini panggung pertamaku. Sedari tadi aku sulit sekali mengusir rasa gugup. Tanganku bahkan terasa begitu dingin.
“ Yo. Kenapa Vir kamu kok diem banget.” Kak Denis menyapaku. Aku hanya diam saja tak menyahut, sibuk mengenyahkan rasa gugup. Kak Denis memandangku seolah sedang mengamati sebelum akhirnya tertawa kecil.
“ Santai aja Vira, nggak usah gugup begitu. Kamu pasti bisa.” Kak Denis mengacak-acak rambutku pelan.
“ Apanya yang santai, bagaimana kalau aku lupa dialogku dan merusak dramanya.” aku menyahut sedikit kesal. Kak Denis tertawa lagi.
“ Tenang aja Vira, kamu pasti bisa. Bukankah kamu udah berlatih selama ini? Percayalah pada dirimu sendiri. Bukankah ini yang kamu inginkan? Menjadi seorang Putri, jiwailah peran itu dan aku yakin kata-kata itu nggak akan jadi sebuah hafalan melainkan bagian dari dirimu. Dan yang pastinya nggak akan bikin kamu lupa.” Aku memandang Kak Denis kagum dengan kata-kata yang diucapkannya.

“ Wow aku terkejut kakak bisa mengatakan kalimat super bijak itu. “ Kak Denis melotot berpura-pura kesal. “ Makasih kak, sekarang aku udah nggak gugup kok.” Aku menarik napas panjang sekali lagi. Kata-kata Kak Denis memang sangat tepat. Menjadi seorang Putri memang menjadi impianku. Sekarang impian itu telah berada di depan mata. Aku tidak akan menggagalkannya. Aku melangkah yakin menuju panggungku.
Sejauh ini drama berjalan lancar. Tak seperti yang kutakutkan, kata-kata justru meluncur dengan lancar dari bibirku. Aku merasa seolah-olah aku benar-benar seorang Putri kerajaan. Tanpa terasa bagian akhir telah mendekat. Peranku sebentar lagi akan berakhir, sedih memang namun aku senang bisa menjadi seorang Putri yang aku dambakan.
Seorang lelaki menunggang kuda putih masuk ke dalam panggung. Lelaki itu memakai pakaian seorang pangeran, tetapi lelaki itu bukan Ryan yang memerankan pangeran. Aku mengernyit heran. Apakah ada perubahan skenario, kalaupun ada mengapa aku tidak diberi tahu. Aku melemparkan pandangan pada salah satu staf di belakang panggung yang tengah berdiri di sudut. Ia hanya mengedipkan sebelah matanya sambil berisyarat lanjutkan saja ceritanya. Lelaki berbaju pangeran itu berjalan pelan ke arahku. Ia memakai topeng untuk menutup wajahnya. Aku menatapnya dari atas ke bawah. Jantungku mendadak berdetak kencang. Sosok itu begitu akrab di mataku. Sosok yang selama ini selalu membuat duniaku tak karuan, mengacak-acak ritma jantungku.
“ Kak Denis?” aku mendesis pelan.
****
Denis
Aku pertama kali bertemu dengannya kurang lebih lima bulan lalu. Gadis itu berlari kecil ke ruang ekskul kami, ekskul drama. Masih ku ingat suara cemprengnya ketika ia berucap salam pertama kali. Aku juga masih ingat persis apa yang dikatakannya ketika ditanya motivasinya masuk ekskul drama. Katanya ia ingin menjadi seorang Putri. Aku masih ingat wajahnya saat ia mengatakannya, begitu bersinar begitu lucu. Tanpa kusadari aku sudut mataku selalu mencari sosoknya. Tanpa ku sadari perhatianku hampir selalu tertuju padanya. Caranya berbicara, caranya menanggapiku, cara tersenyumnya. Pada akhirnya aku tahu satu hal, aku menyukainya. Aku menyukai gadis yang terobsesi pada dongeng itu. Suara cemprengnya sering kali terbawa hingga di mimpiku. Sinar matanya saat berbicara hampir selalu memenuhi memori otakku.
Mimpi gadis itu menjadi seorang Putri, kareanya aku ingin membuatnya mewujudkan mimpinya. Aku menulis sebuah cerita mengenai Pangeran dan Putri yang sangat disukainya. Aku ingin melihat sejauh mana usahanya mendapatkan peran Putri yang sangat diimpikannya. Dia berusaha begitu keras, dan kurasa peran itu cocok untuknya. Ia pun akhirnya mendapatkan peran yang sangat ia impikan itu. Wajahnya terlihat begitu bahagia membuatku tak mampu berhenti menyunggingkan senyuman.
Sejak hari itu aku berusaha mendekatinya. Aku ingin menjadi seseorang yang keberadaannya cukup besar bagi gadis itu. Aku ingin menjadi orang yang penting baginya. Ia tidak tahu satu rahasia yang kusembunyikan darinya. Hari dimana pertunjukan drama dilakukan, aku meminta teman-teman dari ekskul drama untuk melakukan sesuatu. Hari ini aku akan mengungkapkan segalanya pada gadis itu. Rencana telah tersusun matang. Hanya dialah yang tidak tahu apa yang terjadi. Aku teringat wajah gugupnya sebelum naik panggung membuatku tak dapat berhenti tersenyum geli.
“ Bukannya kau tak kalah gugupnya dengan dia?” tanya Reska begitu ia pergi setelah aku memberikannya sedikit motivasi. Aku memukul lengan Reska pelan.
“ Cerewet kau Res.” tukasku. Reska hanya nyengir lebar kemudian berlalu begitu saja. Aku mengambil napas panjang. Ini adalah hari yang kunantikan. Aku memandang sebuah kostum di hadapanku. Tunggu aku Putriku.
****
Aku hampir tertawa melihatnya begitu kaget melihatku ada di panggung. Kemunculan mendadak seorang Pangeran lain yang tidak ada di dalam skrip tampaknya membuat gadis itu begitu gugup. Ia melemparkan pandangannya pada salah satu staf berusaha menjelaskan. Aku menyeringai tapi tentu saja ia tak dapat melihat wajahku, karena aku memakai topeng untuk menutupinya. Aku berjalan perlahan mendekatinya. Tampaknya ia sudah sadar siapa aku. Aku berlutut di depan gadis itu seperti pose seorang Pangeran yang hendak melamar Sang Putri.
“ Sejak pertama mataku bertemu denganmu, kamu begitu menarik perhatianku. Sinar di matamu menyilaukanku. Senyummu membuat jantungku berdetak begitu kencang. Suaramu selalu terngiang di telingaku menggangguku siang dan malam.” aku menarik napas panjang siap melanjutkan.
“ Oh sang Putri jelita, jika kau mengizinkan biarkanlah aku berada di sisimu menemani setiap harimu. Putri izinkanlah aku membawamu dengan kuda putihku menuju kebahagiaan yang abadi. Wahai Putri jelita izinkanlah aku mengatakan aku menyukaimu, tinggalah di sisiku Putri Vira.” ucapku. Jantungku berdetak tidak karuan saat aku mengatakan hal itu pada gadis di hadapanku. Vira. Matanya terlihat begitu berkaca-kaca melihatku. Ia kemudian menjulurkan tangannya melepaskan topeng yang masih menutup wajahku. Vira memegang kedua pipiku dengan tangannya dan mendekatkan wajahnya hingga beberapa senti saja di depanku. Di bibirnya sebuah senyuman tersungging.
“ Bawalah aku Pangeran. Bawalah aku ke negeri tanpa kesedihan, dimana aku bisa hidup bahagia denganmu. Aku sangat menyukaimu pangeranku.” jawabnya. Aku mengembangkan senyuman. Aku menarik tangan Vira membuatnya kehilangan keseimbangan, lalu menangkapnya ke pelukanku. Mataku dan matanya beradu pandang. Iris matanya yang kecoklatan kembali bersinar begitu indah. Bisikannya di telingaku membuat senyumku mungkin tak akan pudar.
“ Makasih Kak Denis, kakak membuatku benar-benar menjadi seorang Putri yang aku idam-idamkan. Kau memang pangeran terbaikku.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar