Latihan drama berjalan seperti
biasa. Hari pertunjukan semakin dekat, dan tanpa terasa hari ini adalah hari
pertunjukan. Aku mematut bayanganku di cermin. Gaun yang kugunakan sebagai
kostum telah melekat di tubuhku. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya
perlahan berusaha mengusir rasa gugup yang sedari tadi menguasaiku. Ini
panggung pertamaku. Sedari tadi aku sulit sekali mengusir rasa gugup. Tanganku
bahkan terasa begitu dingin.
“ Yo. Kenapa Vir kamu kok diem
banget.” Kak Denis menyapaku. Aku hanya diam saja tak menyahut, sibuk
mengenyahkan rasa gugup. Kak Denis memandangku seolah sedang mengamati sebelum
akhirnya tertawa kecil.
“ Santai aja Vira, nggak usah gugup
begitu. Kamu pasti bisa.” Kak Denis mengacak-acak rambutku pelan.
“ Apanya yang santai, bagaimana
kalau aku lupa dialogku dan merusak dramanya.” aku menyahut sedikit kesal. Kak
Denis tertawa lagi.
“ Tenang aja Vira, kamu pasti bisa.
Bukankah kamu udah berlatih selama ini? Percayalah pada dirimu sendiri.
Bukankah ini yang kamu inginkan? Menjadi seorang Putri, jiwailah peran itu dan
aku yakin kata-kata itu nggak akan jadi sebuah hafalan melainkan bagian dari dirimu.
Dan yang pastinya nggak akan bikin kamu lupa.” Aku memandang Kak Denis kagum
dengan kata-kata yang diucapkannya.
“ Wow aku terkejut kakak bisa
mengatakan kalimat super bijak itu. “ Kak Denis melotot berpura-pura kesal. “
Makasih kak, sekarang aku udah nggak gugup kok.” Aku menarik napas panjang
sekali lagi. Kata-kata Kak Denis memang sangat tepat. Menjadi seorang Putri
memang menjadi impianku. Sekarang impian itu telah berada di depan mata. Aku tidak
akan menggagalkannya. Aku melangkah yakin menuju panggungku.
Sejauh ini drama berjalan lancar.
Tak seperti yang kutakutkan, kata-kata justru meluncur dengan lancar dari
bibirku. Aku merasa seolah-olah aku benar-benar seorang Putri kerajaan. Tanpa
terasa bagian akhir telah mendekat. Peranku sebentar lagi akan berakhir, sedih
memang namun aku senang bisa menjadi seorang Putri yang aku dambakan.
Seorang lelaki menunggang kuda
putih masuk ke dalam panggung. Lelaki itu memakai pakaian seorang pangeran,
tetapi lelaki itu bukan Ryan yang memerankan pangeran. Aku mengernyit heran.
Apakah ada perubahan skenario, kalaupun ada mengapa aku tidak diberi tahu. Aku
melemparkan pandangan pada salah satu staf di belakang panggung yang tengah
berdiri di sudut. Ia hanya mengedipkan sebelah matanya sambil berisyarat lanjutkan
saja ceritanya. Lelaki berbaju pangeran itu berjalan pelan ke arahku. Ia
memakai topeng untuk menutup wajahnya. Aku menatapnya dari atas ke bawah.
Jantungku mendadak berdetak kencang. Sosok itu begitu akrab di mataku. Sosok
yang selama ini selalu membuat duniaku tak karuan, mengacak-acak ritma
jantungku.
“ Kak Denis?” aku mendesis pelan.
****
Denis
Aku pertama kali bertemu dengannya
kurang lebih lima bulan lalu. Gadis itu berlari kecil ke ruang ekskul kami,
ekskul drama. Masih ku ingat suara cemprengnya ketika ia berucap salam pertama
kali. Aku juga masih ingat persis apa yang dikatakannya ketika ditanya
motivasinya masuk ekskul drama. Katanya ia ingin menjadi seorang Putri. Aku
masih ingat wajahnya saat ia mengatakannya, begitu bersinar begitu lucu. Tanpa
kusadari aku sudut mataku selalu mencari sosoknya. Tanpa ku sadari perhatianku
hampir selalu tertuju padanya. Caranya berbicara, caranya menanggapiku, cara
tersenyumnya. Pada akhirnya aku tahu satu hal, aku menyukainya. Aku menyukai
gadis yang terobsesi pada dongeng itu. Suara cemprengnya sering kali terbawa
hingga di mimpiku. Sinar matanya saat berbicara hampir selalu memenuhi memori
otakku.
Mimpi gadis itu menjadi seorang
Putri, kareanya aku ingin membuatnya mewujudkan mimpinya. Aku menulis sebuah
cerita mengenai Pangeran dan Putri yang sangat disukainya. Aku ingin melihat
sejauh mana usahanya mendapatkan peran Putri yang sangat diimpikannya. Dia
berusaha begitu keras, dan kurasa peran itu cocok untuknya. Ia pun akhirnya
mendapatkan peran yang sangat ia impikan itu. Wajahnya terlihat begitu bahagia
membuatku tak mampu berhenti menyunggingkan senyuman.
Sejak hari itu aku berusaha
mendekatinya. Aku ingin menjadi seseorang yang keberadaannya cukup besar bagi
gadis itu. Aku ingin menjadi orang yang penting baginya. Ia tidak tahu satu
rahasia yang kusembunyikan darinya. Hari dimana pertunjukan drama dilakukan,
aku meminta teman-teman dari ekskul drama untuk melakukan sesuatu. Hari ini aku
akan mengungkapkan segalanya pada gadis itu. Rencana telah tersusun matang.
Hanya dialah yang tidak tahu apa yang terjadi. Aku teringat wajah gugupnya
sebelum naik panggung membuatku tak dapat berhenti tersenyum geli.
“ Bukannya kau tak kalah gugupnya
dengan dia?” tanya Reska begitu ia pergi setelah aku memberikannya sedikit
motivasi. Aku memukul lengan Reska pelan.
“ Cerewet kau Res.” tukasku. Reska
hanya nyengir lebar kemudian berlalu begitu saja. Aku mengambil napas panjang.
Ini adalah hari yang kunantikan. Aku memandang sebuah kostum di hadapanku.
Tunggu aku Putriku.
****
Aku hampir tertawa melihatnya
begitu kaget melihatku ada di panggung. Kemunculan mendadak seorang Pangeran
lain yang tidak ada di dalam skrip tampaknya membuat gadis itu begitu gugup. Ia
melemparkan pandangannya pada salah satu staf berusaha menjelaskan. Aku
menyeringai tapi tentu saja ia tak dapat melihat wajahku, karena aku memakai
topeng untuk menutupinya. Aku berjalan perlahan mendekatinya. Tampaknya ia
sudah sadar siapa aku. Aku berlutut di depan gadis itu seperti pose seorang
Pangeran yang hendak melamar Sang Putri.
“ Sejak pertama mataku bertemu denganmu,
kamu begitu menarik perhatianku. Sinar di matamu menyilaukanku. Senyummu
membuat jantungku berdetak begitu kencang. Suaramu selalu terngiang di
telingaku menggangguku siang dan malam.” aku menarik napas panjang siap
melanjutkan.
“ Oh sang Putri jelita, jika kau
mengizinkan biarkanlah aku berada di sisimu menemani setiap harimu. Putri
izinkanlah aku membawamu dengan kuda putihku menuju kebahagiaan yang abadi.
Wahai Putri jelita izinkanlah aku mengatakan aku menyukaimu, tinggalah di
sisiku Putri Vira.” ucapku. Jantungku berdetak tidak karuan saat aku mengatakan
hal itu pada gadis di hadapanku. Vira. Matanya terlihat begitu berkaca-kaca
melihatku. Ia kemudian menjulurkan tangannya melepaskan topeng yang masih
menutup wajahku. Vira memegang kedua pipiku dengan tangannya dan mendekatkan
wajahnya hingga beberapa senti saja di depanku. Di bibirnya sebuah senyuman
tersungging.
“ Bawalah aku Pangeran. Bawalah aku
ke negeri tanpa kesedihan, dimana aku bisa hidup bahagia denganmu. Aku sangat
menyukaimu pangeranku.” jawabnya. Aku mengembangkan senyuman. Aku menarik
tangan Vira membuatnya kehilangan keseimbangan, lalu menangkapnya ke pelukanku.
Mataku dan matanya beradu pandang. Iris matanya yang kecoklatan kembali
bersinar begitu indah. Bisikannya di telingaku membuat senyumku mungkin tak
akan pudar.
“ Makasih Kak Denis, kakak
membuatku benar-benar menjadi seorang Putri yang aku idam-idamkan. Kau memang
pangeran terbaikku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar