Sabtu, 24 Oktober 2015

Ayah (Part 1)



           
Hari itu matahari bersinar cerah, angin bertiup tenang, cuaca pun terasa tak terlalu panas dan juga tak terlalu dingin. Hari itu juga hari yang sangat indah bagi Renata. Gadis berusia 23 tahun itu akan melepas status lajangnya, menikahi seorang pria yang sudah dikenalnya semenjak duduk di bangku kuliah. Senyuman bahagia tak pernah pergi meninggalkan Renata. Sebaliknya raut wajah sendu terpancar dari wajah Ayah Renata. Wajah yang kini mulai menua mengisyaratkan ekspresi kesedihan dan kebahagiaan yang membuatnya terlihat begitu sendu. Renata mendekati Ayah yang memandangnya dengan pandangan yang sulit dimengerti.
            “ Kau terlihat cantik dengan gaun itu Ren, sungguh.” puji Ayah dengan suara serak. Renata tersenyum memeluk pinggang Ayah erat.
            “ Tentu saja, Rena kan anak Ayah.” bisiknya pelan.  Ayah mengelus pelan rambut Renata. Matanya terpejam membayangkan tahun-tahun ketika ia masih berada di sisi Renata, melindungi gadis itu dari segala hal yang membuatnya terluka.
            “ Ayah senang akhirnya kau menemukan kebahagiaanmu Ren. Seumur hidup Ayah hanya satu hal yang Ayah inginkan. Senyuman indahmu.” Ayah berucap pelan. Renata melepaskan pelukannya. Iris matanya memandang iris mata Ayah Renata yang memilik warna serupa, mencoba menyelami apa yang Ayahnya pikirkan. Renata tahu pasti Ayahnya selalu ada untuknya. Ia selalu menjaga dan melindunginya dari apapun yang dapat membuatnya terluka, baik fisik maupun perasaan. Pikiran Renata mulai mengembara membawanya ke salah satu kenangan yang tidak mungkin akan pernah ia lupakan. Ingatan tentang 6 tahun yang lalu.

            Menginjak usia 17 tahun, Renata mulai ingin mengubah hidupnya. Satu hal yang ia inginkan, mendapatkan seorang pacar. Benar sekali. Selama 17 tahun menghirup oksigen di bumi tak pernah sekalipun Renata mengenal makhluk bernama lelaki ataupun menjadi kekasih seseorang. Ayahnya yang super protektif melarangnya untuk sembarangan bergaul. Tapi ayah tidak tahu sebenarnya diam-diam Renata sudah memiliki seorang kekasih. Revo nama lelaki yang telah membuat Renata mabuk kepayang.
            Malam itu Renata pulang terlalu larut, Revo mengajaknya jalan-jalan. Kencan katanya. Renata melirik jam yang melingkar di pergelangannya. Jarum menunjuk angka 1. Renata mengeluh pelan, kalau Ayah sampai tahu anak gadisnya pulang terlalu larut malam, ia pasti marah besar. Renata berjingkat-jingkat masuk ke dalam rumah, berharap tidak membangunkan penghuni rumah terutama Ayahnya. Ia memasukan kunci rumah yang beberapa hari lalu telah Renata buatkan duplikatnya. Pelan Renata membuka kenop pintu. Ia berusaha untuk tidak membuat suara, tapi tampaknya usaha Renata sia-sia. Karena ketika ia menutup pintu Ayah telah berdiri tak jauh dari ruang tamu, menyilangkan kedua tangannya dan memandangnya penuh selidik.
            “ Darimana saja kau Renata jam segini baru pulang?” tanya Ayah tajam. Jantung Renata hampir copot mendengar suara Ayah. Renata diam, ia menundukan matanya tidak berani memandang Ayah.
            “ Jawab Renata!” perintah Ayahnya meninggikan nada bicaranya. Renata tersentak, selama ini Ayah tidak pernah meninggikan nada bicaranya pada Renata, anak semata wayangnya tapi malam ini Ayah melakukannya.
            “ Renata habis jalan Yah sama teman Renata.” Renata menjawab pelan pertanyaan Ayah separuh berbohong.
            “ Sama teman? Sampai jam segini, siapa teman kamu? Lelaki atau perempuan berapa orang? Siapa namanya?” Renata menelan ludah mendengar pertanyaan Ayah yang makin mirip dengan introgasi. Ia mulai berpikir tentang alasan apalagi yang akan ia katakan. Tidak mungkin kan Renata mengatakan bahwa ia pergi dengan pacarnya. Sama saja dengan cari mati. Ayah pasti murka sekali kalau Renata mengatakan yang sejujurnya. Tapi ia juga tidak dapat menemukan alasan yang tepat bagi pertanyaan Ayah.
            “ Kenapa diam saja Renata, Jawab!” Renata memandang wajah Ayahnya memelas. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia katakan. Tapi Ayah tidak mau berkompromi. Tetap pada pose menuntutnya, tangan di silakan dengan pandangan tajam. Renata memejamkan mata. Baiklah ia akan mengatakan yang sejujurnya.
            “ Renata pergi bareng Revo Yah, pacar Renata.” Renata berucap lirih, lirih sekali. Tapi, pendengaran Ayah cukup tajam untuk mendengar perkataan Renata. Wajah Ayah makin mengeras, matanya sedikit meloto kesal bersiap menyemprot Renata. Tapi, hal yang ditakutkan Renata tidak terjadi karena ibu keburu datang dan menenangkan Ayah.
            “ Sudahlah Yah, kalau mau marah jangan sekarang sudah malam. Kasian Renata, dia sudah lelah. Renata kamu masuk ke kamar sekarang dan lekas tidur.” Renata mengangguk mendengar perintah ibunya. Dengan takut ia berjalan melewati Ayah dan segera masuk ke kamar. Merebahkan diri dan menutup matanya, Renata mencoba untuk tidur.
*****
            Ayah sudah duduk di meja makan saat pagi harinya Renata terbangun. Posenya masih sama seperti semalam, menyilangkan tangan dengan mata yang tajam menuntut penjelasan. Renata menelan ludah gugup. Kalau semalam ibu mampu menyelamatkannya, tidak kali ini. Ibu hanya memandang Renata lembut sambil memberi isyarat duduk dan jelaskan. Malas, Renata menyeret kakinya ke meja makan. Nasi goreng yang dimasak ibu bahkan terasa hambar di lidah Renata. Ia benar-benar takut pada kemarahan Ayah.
            “ Jadi siapa pacar kau Renata?” Ayah bertanya dengan penuh nada selidik membuat Renata gemetar.
            “ Revo Yah, dia teman sekelas Renata.” jawab Renata takut-takut. Renata melirik seklias ke arah Ayah yang tengah menghela napas dalam.
            “ Ayah nggak marah sama kau Renata, jadi jelaskan sejelas-jelasnya.” perintah Ayah. Renata mencibir dalam hati. “Tidak marah tapi kok nada bicaranya begitu”pikir Renata.
            “ Ya kemarin malem Revo ngajakin Renata jalan Yah. Main-main keliling kota dan waktu balik ternyata udah malem banget.” Renata mulai menjelaskan. Ayahnya hanya menganggukan kepala saja. “ Lalu kenapa pacar kamu nggak mengantarmu sampai rumah? Ayah nggak mendengar suara kendaraan apapun saat kamu pulang Renata.” Ayah mulai melunak.
            “ Revo nggak ingin mengganggu Ayah katanya. Kalau pulang larut ia takut akan membangunkan Ayah, makanya Revo nganter Renata sampai di depan gang.” Ayah memandang Renata tak percaya mendengar penjelasan anak gadisnya.
            “ Seharusnya dia mengantar kamu sampai ke rumah. Pacar apa itu membiarkan pacarnya pulang sendirian. Kalau ada apa-apa denganmu bagaimana siapa yang mau menanggungnya. Menggunakan Ayah sebagai alasan, sungguh pengecut sekali. Ayah nggak suka dengan pacarmu itu, dia buruk untukmu Renata.” terang Ayah membuat Renata kesal.
            “ Ayah kan nggak tau siapa Revo, kenapa Ayah langsung menilainya begitu? Revo pacar yang baik Yah.” Renata setengah mati membela Revo, tapi Ayah hanya memandangnya datar.
            “ Kalau dia pacar yang baik, pasti dia akan mengantarmu pulang dengan selamat, bertemu Ayah dan meminta maaf telah terlambat memulangkanmu. Mulai sekarang jangan bertemu dengan lelaki itu selain di sekolah.” perintah Ayah final. Renata bungkam menahan rasa jengkelnya.

Ia ingin sekali membalas perkataan Ayah, namun Ayahnya sudah dalam pose jangan membantah perkataan Ayah. Renatapun hanya bisa diam, gondok dengan Ayahnya. Ayah tidak tahu sama sekali mengenai Revo, tapi sudah seenaknya mengambil kesimpulan yang tidak-tidak mengenai pacarnya itu.
            Renata merebahkan dirinya ke kasur. Matanya jelalatan memandang keseluruh ruangan kamarnya. Ia bosan. Hari Minggu tapi Renata bahkan tidak memiliki rencana apapun. Sepanjang hari ia hanya tiduran setelah mendengarkan ceramah dari Ayahnya. Renata berusaha mengusir bosan dengan mencoba menghubungi Revo, tapi tak ada respon dari Revo. Malas, Renata melemparkan handphonenya ke sembarang tempat. Suasana hatinya teramat buruk meskipun cuaca begitu cerah. Tiba-tiba handphone Renata berbunyi membuat gadis itu tersentak kaget. Dengan segera ia meraih handphonenya yang sudah berada di ujung kasur. Senyum mengembang di bibir Renata begitu melihat si pengirim pesan.
            Minggu depan ada pesta ulang tahun Tiara. Kamu jangan lupa dateng ya sayang. Love u.
            Pesan dari Revo langsung mengubah mood Renata menjadi sangat baik. Meskipun begitu singkat, kata-kata Revo di akhir pesan membuat Renata terbang bahagia. Renata tak dapat lagi menahan senyumannya. Jadilah sepanjang hari itu Renata mirip seperti orang gila tersenyum tanpa alasan yang jelas. Mendadak ia ingin waktu dipercepat langsung ke Minggu depan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar