Hari itu matahari bersinar cerah, angin bertiup tenang, cuaca pun terasa tak terlalu panas dan juga tak terlalu dingin. Hari itu juga hari yang sangat indah bagi Renata. Gadis berusia 23 tahun itu akan melepas status lajangnya, menikahi seorang pria yang sudah dikenalnya semenjak duduk di bangku kuliah. Senyuman bahagia tak pernah pergi meninggalkan Renata. Sebaliknya raut wajah sendu terpancar dari wajah Ayah Renata. Wajah yang kini mulai menua mengisyaratkan ekspresi kesedihan dan kebahagiaan yang membuatnya terlihat begitu sendu. Renata mendekati Ayah yang memandangnya dengan pandangan yang sulit dimengerti.
“ Kau terlihat cantik dengan gaun
itu Ren, sungguh.” puji Ayah dengan suara serak. Renata tersenyum memeluk
pinggang Ayah erat.
“ Tentu saja, Rena kan anak Ayah.”
bisiknya pelan. Ayah mengelus pelan
rambut Renata. Matanya terpejam membayangkan tahun-tahun ketika ia masih berada
di sisi Renata, melindungi gadis itu dari segala hal yang membuatnya terluka.
“ Ayah senang akhirnya kau menemukan
kebahagiaanmu Ren. Seumur hidup Ayah hanya satu hal yang Ayah inginkan.
Senyuman indahmu.” Ayah berucap pelan. Renata melepaskan pelukannya. Iris
matanya memandang iris mata Ayah Renata yang memilik warna serupa, mencoba
menyelami apa yang Ayahnya pikirkan. Renata tahu pasti Ayahnya selalu ada
untuknya. Ia selalu menjaga dan melindunginya dari apapun yang dapat membuatnya
terluka, baik fisik maupun perasaan. Pikiran Renata mulai mengembara membawanya
ke salah satu kenangan yang tidak mungkin akan pernah ia lupakan. Ingatan tentang
6 tahun yang lalu.
Menginjak usia 17 tahun, Renata
mulai ingin mengubah hidupnya. Satu hal yang ia inginkan, mendapatkan seorang
pacar. Benar sekali. Selama 17 tahun menghirup oksigen di bumi tak pernah
sekalipun Renata mengenal makhluk bernama lelaki ataupun menjadi kekasih
seseorang. Ayahnya yang super protektif melarangnya untuk sembarangan bergaul.
Tapi ayah tidak tahu sebenarnya diam-diam Renata sudah memiliki seorang
kekasih. Revo nama lelaki yang telah membuat Renata mabuk kepayang.
Malam itu Renata pulang terlalu
larut, Revo mengajaknya jalan-jalan. Kencan katanya. Renata melirik jam yang
melingkar di pergelangannya. Jarum menunjuk angka 1. Renata mengeluh pelan,
kalau Ayah sampai tahu anak gadisnya pulang terlalu larut malam, ia pasti marah
besar. Renata berjingkat-jingkat masuk ke dalam rumah, berharap tidak
membangunkan penghuni rumah terutama Ayahnya. Ia memasukan kunci rumah yang
beberapa hari lalu telah Renata buatkan duplikatnya. Pelan Renata membuka kenop
pintu. Ia berusaha untuk tidak membuat suara, tapi tampaknya usaha Renata
sia-sia. Karena ketika ia menutup pintu Ayah telah berdiri tak jauh dari ruang
tamu, menyilangkan kedua tangannya dan memandangnya penuh selidik.
“ Darimana saja kau Renata jam
segini baru pulang?” tanya Ayah tajam. Jantung Renata hampir copot mendengar
suara Ayah. Renata diam, ia menundukan matanya tidak berani memandang Ayah.
“ Jawab Renata!” perintah Ayahnya
meninggikan nada bicaranya. Renata tersentak, selama ini Ayah tidak pernah
meninggikan nada bicaranya pada Renata, anak semata wayangnya tapi malam ini
Ayah melakukannya.
“ Renata habis jalan Yah sama teman
Renata.” Renata menjawab pelan pertanyaan Ayah separuh berbohong.
“ Sama teman? Sampai jam segini,
siapa teman kamu? Lelaki atau perempuan berapa orang? Siapa namanya?” Renata
menelan ludah mendengar pertanyaan Ayah yang makin mirip dengan introgasi. Ia
mulai berpikir tentang alasan apalagi yang akan ia katakan. Tidak mungkin kan
Renata mengatakan bahwa ia pergi dengan pacarnya. Sama saja dengan cari mati.
Ayah pasti murka sekali kalau Renata mengatakan yang sejujurnya. Tapi ia juga
tidak dapat menemukan alasan yang tepat bagi pertanyaan Ayah.
“ Kenapa diam saja Renata, Jawab!”
Renata memandang wajah Ayahnya memelas. Ia benar-benar tidak tahu apa yang
harus ia katakan. Tapi Ayah tidak mau berkompromi. Tetap pada pose menuntutnya,
tangan di silakan dengan pandangan tajam. Renata memejamkan mata. Baiklah ia
akan mengatakan yang sejujurnya.
“ Renata pergi bareng Revo Yah,
pacar Renata.” Renata berucap lirih, lirih sekali. Tapi, pendengaran Ayah cukup
tajam untuk mendengar perkataan Renata. Wajah Ayah makin mengeras, matanya
sedikit meloto kesal bersiap menyemprot Renata. Tapi, hal yang ditakutkan
Renata tidak terjadi karena ibu keburu datang dan menenangkan Ayah.
“ Sudahlah Yah, kalau mau marah
jangan sekarang sudah malam. Kasian Renata, dia sudah lelah. Renata kamu masuk
ke kamar sekarang dan lekas tidur.” Renata mengangguk mendengar perintah
ibunya. Dengan takut ia berjalan melewati Ayah dan segera masuk ke kamar.
Merebahkan diri dan menutup matanya, Renata mencoba untuk tidur.
*****
Ayah sudah duduk di meja makan saat
pagi harinya Renata terbangun. Posenya masih sama seperti semalam, menyilangkan
tangan dengan mata yang tajam menuntut penjelasan. Renata menelan ludah gugup.
Kalau semalam ibu mampu menyelamatkannya, tidak kali ini. Ibu hanya memandang
Renata lembut sambil memberi isyarat duduk dan jelaskan. Malas, Renata menyeret
kakinya ke meja makan. Nasi goreng yang dimasak ibu bahkan terasa hambar di
lidah Renata. Ia benar-benar takut pada kemarahan Ayah.
“ Jadi siapa pacar kau Renata?” Ayah
bertanya dengan penuh nada selidik membuat Renata gemetar.
“ Revo Yah, dia teman sekelas
Renata.” jawab Renata takut-takut. Renata melirik seklias ke arah Ayah yang
tengah menghela napas dalam.
“ Ayah nggak marah sama kau Renata,
jadi jelaskan sejelas-jelasnya.” perintah Ayah. Renata mencibir dalam hati. “Tidak
marah tapi kok nada bicaranya begitu”pikir Renata.
“ Ya kemarin malem Revo ngajakin
Renata jalan Yah. Main-main keliling kota dan waktu balik ternyata udah malem
banget.” Renata mulai menjelaskan. Ayahnya hanya menganggukan kepala saja. “
Lalu kenapa pacar kamu nggak mengantarmu sampai rumah? Ayah nggak mendengar
suara kendaraan apapun saat kamu pulang Renata.” Ayah mulai melunak.
“ Revo nggak ingin mengganggu Ayah
katanya. Kalau pulang larut ia takut akan membangunkan Ayah, makanya Revo
nganter Renata sampai di depan gang.” Ayah memandang Renata tak percaya
mendengar penjelasan anak gadisnya.
“ Seharusnya dia mengantar kamu
sampai ke rumah. Pacar apa itu membiarkan pacarnya pulang sendirian. Kalau ada
apa-apa denganmu bagaimana siapa yang mau menanggungnya. Menggunakan Ayah
sebagai alasan, sungguh pengecut sekali. Ayah nggak suka dengan pacarmu itu,
dia buruk untukmu Renata.” terang Ayah membuat Renata kesal.
“ Ayah kan nggak tau siapa Revo,
kenapa Ayah langsung menilainya begitu? Revo pacar yang baik Yah.” Renata
setengah mati membela Revo, tapi Ayah hanya memandangnya datar.
“ Kalau dia pacar yang baik, pasti
dia akan mengantarmu pulang dengan selamat, bertemu Ayah dan meminta maaf telah
terlambat memulangkanmu. Mulai sekarang jangan bertemu dengan lelaki itu selain
di sekolah.” perintah Ayah final. Renata bungkam menahan rasa jengkelnya.
Ia ingin sekali membalas perkataan Ayah, namun
Ayahnya sudah dalam pose jangan membantah perkataan Ayah. Renatapun hanya bisa
diam, gondok dengan Ayahnya. Ayah tidak tahu sama sekali mengenai Revo, tapi
sudah seenaknya mengambil kesimpulan yang tidak-tidak mengenai pacarnya itu.
Renata
merebahkan dirinya ke kasur. Matanya jelalatan memandang keseluruh ruangan
kamarnya. Ia bosan. Hari Minggu tapi Renata bahkan tidak memiliki rencana
apapun. Sepanjang hari ia hanya tiduran setelah mendengarkan ceramah dari
Ayahnya. Renata berusaha mengusir bosan dengan mencoba menghubungi Revo, tapi
tak ada respon dari Revo. Malas, Renata melemparkan handphonenya ke sembarang
tempat. Suasana hatinya teramat buruk meskipun cuaca begitu cerah. Tiba-tiba
handphone Renata berbunyi membuat gadis itu tersentak kaget. Dengan segera ia
meraih handphonenya yang sudah berada di ujung kasur. Senyum mengembang di
bibir Renata begitu melihat si pengirim pesan.
Minggu
depan ada pesta ulang tahun Tiara. Kamu jangan lupa dateng ya sayang. Love u.
Pesan dari Revo
langsung mengubah mood Renata menjadi sangat baik. Meskipun begitu singkat,
kata-kata Revo di akhir pesan membuat Renata terbang bahagia. Renata tak dapat
lagi menahan senyumannya. Jadilah sepanjang hari itu Renata mirip seperti orang
gila tersenyum tanpa alasan yang jelas. Mendadak ia ingin waktu dipercepat langsung ke Minggu depan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar