Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa Minggu pun
datang kembali. Renata mematut bayangannya di depan cermin. Dress selutut yang
dikenakannya terlihat begitu cocok tubuhnya. Renata kembali memandang bayangan
dirinya di depan cermin sebelum memutuskan untuk keluar kamar. Langkahnya
berhenti begitu melihat Ayah tengah duduk memandangnya.
“
Mau pergi kemana kau Renata?” tanya Ayah.
“
Renata mau pergi ke pesta ulang tahun temem Renata Yah.” jawab Renata. Ayah
mengerutkan dahi melempar pandangan ke arah jam dinding.
“
Selarut ini? Dengan siapa kau pergi?” Renata mengigit bibir, tidak mungkin ia
berkata bahwa ia akan pergi sendirian. Ayah tidak akan mengizinkannya. Revo
tidak bisa menjemput Renata jadilah ia harus pergi ke pesta ulang tahun Tiara
sendirian. Tapi tidak mungkin penjelasan seperti itu akan memuaskan Ayah.
Renata kembali memutar otak. Buntu.
“
Ren...?” Ayah memanggil.
“
Ya yah?”
“
Dengan siapa kau pergi? Ini sudah larut.”
“
Ini masih jam 8 Yah, belum terlalu malem. Renata pergi dengan..dengan....”
Renata masih menggantungkan kalimatnya sebelum akhirnya Ayah berkata.
“
Baiklah Ayah yang akan mengantarmu. Tunggu sebentar.” Ayah beranjak dari tempat
duduknya membuat Renata melongo. Ia tidak salah dengar kan, Ayah mau
mengantarnya. Renata bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia hanya
mematung di tempatnya sampai-sampai Ayah harus memanggilnya.
“
Ayo Renata!” Renata tergagap. Dilihatnya Ayah telah siap. Ayah benar-benar akan
mengantarnya. Renata bergegas menyusul Ayah yang telah melangkah duluan keluar
rumah.
Mobil
yang dinaiki Renata dan Ayah melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan
yang tak terlalu ramai. Renata masih bungkam tidak tahu harus mengatakan apa,
begitu juga dengan Ayah. Konsentrasinya hanya tertuju pada jalanan di depannya.
“
Jadi siapa temanmu yang berulang tahun. Kenapa baru kali ini saja kau diundang?
Bukankah tahun-tahun sebelumnya kau tidak pernah diundang?” Ayah membuka
pembicaraan setelah hening yang begitu lama. Renata hanya mengedikan bahu. I
“
Tiara Yah namanya. Renata juga nggak tahu kenapa tahun ini Renata diundang.
Mungkin karena Renata pacar Revo. Revo kan cowok populer di sekolah Yah. Udah
ganteng, atlet voli lagi. Pokoknya top banget deh Yah.” ucap Renata. Ayah
melirik Renata seklias yang tampak begitu menggebu-gebu saat menceritakan
pacarnya. Pria berusia 40 tahunan itu menghela napas pelan. Anak gadis semata
wayangnya itu memang terlalu lugu, belum mengerti apa-apa. Karenanya sebagai
Ayah wajar saja kalau ia merasa khawatir dengan kehidupan Renata, apalagi saat
ini Renata mulai beranjak dewasa.
Mobil
yang dikendarai Ayah melambat begitu sampai di tujuan. Renata langsung keluar
dari mobil tanpa mengucapkan apa-apa. Gadis itu bahkan tidak menyadari kalau
Ayah tidak jua pergi meninggalkannya. Tanpa
disadari Renata Ayah mengekor di belakang Renata, mengikuti anak gadisnya itu
menemui teman-temannya. Renata yang tidak menyadari keberadaan Ayahnya berjalan
cukup cepat ingin segera menemui pujaan hatinya. Mata Renata membulat bahagia
ketika melihat sosok Revo tak jauh dari dirinya. Renata mempercepat langkahnya,
namun mendadak langkah Renata terhenti ketika mendengar percakapan Revo dengan
kawannya.
“ Lo
hebat banget Vo..” Revo tersenyum mengejek.
“ Jangan
remehin gue, cewek begitu mah gampang aja. Tinggal rayu dikit udah
klepek-klepek dia.” sahutnya. Kawan-kawan Revo tertawa mendengar perkataannya.
Sementara Renata masih berdiri mematung berusaha mencerna perkataan Revo.
Otaknya berproses berpikir cepat. Renata memejamkan matanya setengah mati ia
menyangkal pikirannya yang memberitahunya bahwa ialah yang tengah dibicarakan
Revo dan kawannya.
“
Tapi cewek lo itu kok lama banget? Dia nggak nyasar kan? Lagian kenapa lo ngga
jemput aja dia Vo?” tanya salah satu teman Revo. Revo menarik salah satu
bibirnya, mencibir.
“
Ngapain gue perlu repot-repot ngejemput tuh cewek. Dia kan udah cinta mati sama
gue, tanpa gue jemput dia pasti dateng lah.”
“
Vo, kamu janji kan setelah acara ini kamu bakalan putusin dia. Aku kesel tau
liat kamu deket-deket sama dia, kan pacar sebenernya kamu tuh aku bukan dia,”
tiba-tiba seorang gadis menyela menggelayut manja di lengan Revo. Revo
tersenyum.
“
Tentu sayang, pacar aku ya Cuma kamu. Cewek itu tuh Cuma jadi bahan taruhan
kita aja kan.” Revo terbahak diikuti kawan-kawan di sekitarnya.
Renata
hanya bisa terdiam membisu menyaksikan dan mendengarkan perkataan Revo dan
kawan-kawannya. Hatinya terasa sakit mendengar perkataan Revo. Apa katanya?
Bahan taruhan. Renata sama sekali tidak pernah menyangkanya. Kenyataan bahwa
Revo mempunyai pacar selain dirinya bahkan tidak lebih menyakitkan dibanding
kenyataan bahwa ia hanyalah sebuah bahan taruhan. Dada Renata sesak, ia merasa
kesulitan bernapas seolah oksigen pergi begitu saja. Setengah mati Renata
menahan tangis. Hatinya memang sakit, tapi ia tidak mau menangis. Tidak. Ia
tidak mau menangis demi lelaki yang bahkan tidak menganggapnya berarti. Renata
membalikan tubuhnya melangkah pulang. Namun langkahnya terhenti saat ia
menabrak seseorang. Tubuh yang begitu kokoh itu menyangga tubuh Renata. Renata
mendongak menatap sosok itu. Ia terpekur begitu mengetahui sosok itu. Pria itu
Ayah, tersenyum pelan. Renata membenamkan kepalanya ke tubuh Ayah berusaha
mengubur rasa sakitnya. Ayah hanya mengelus-elus kepala Renata lembut tanpa
kata.
“
Tunggu di sini sebentar.” perintah Ayah pelan. Ayah melepaskan pelukannya
kemudian berjalan pelan menuju kerumunan Revo dan kawan-kawannya. Napas pria
itu menderu menahan amarah.
“
Revo!” panggil Ayah. Revo dan kawan-kawannya yang masih cekikikan mendadak
diam, menoleh. Revo mengernyit heran. Ia tidak mengenal pria di hadapannya.
Ayah tersenyum yang justru malah membuatnya terlihat menyeringai. Mengerikan.
“
Saya Ayahnya Renata.” kata Ayah. Revo terdiam gelagapan. Ia sama sekali tidak
menduga Ayah Renata akan datang.
“
Berani sekali kamu menyakiti putri saya. Selama ini saya membersarkannya penuh
kasih sayang, berhati-hati agar ia tidak tersakiti. Kamu malah seenaknya
membuatnya sedih dan melukai hatinya. Saya peringatkan kamu, jangan pernah
menunjukan wajahmu di hadapan Renata atau kamu akan menyesal!” ancam Ayah
membuat Revo pucat pasi. Ayah mengedarkan padangannya ke arah kawan-kawan Revo.
“ Kalian juga, bisa-bisanya kalian malah membiarkan bahkan mendukung lelaki ini
melukai Renata. Bukankah kalian ini teman-teman Revo. Kalau kalian benar-benar
teman Revo seharusnya kalian mencegahnya berbuat hal yang buruk bukan malah
membantunya dan menertawai Renata. Keterlaluan!” Ayah mendesis penuh emosi. Tak
ada yang bersuara. Semua orang terdiam. Ayah kembali menatap Revo tajam.
“
Ingat itu, jangan pernah berhubungan lagi dengan Renata! Mengerti.” hardik Ayah
diikuti anggukan cepat Revo. Ayah langsung pergi meninggalkan Revo dan
kawan-kawannya yang masih shock dengan kedatangan Ayah Renata.
“
Ayo pulang Renata.” ajak Ayah. Renata hanya mengangguk kecil mengikuti Ayahnya
yang melangkah lebih dulu.
Mobil
Ayah membelah jalan dengan kecepatan pelan. Sama seperti saat mereka berangkat,
tak ada suara. Hanya suara mesin mobil yang memecah kesunyian. Renata masih
setengah mati menahan air matanya yang rasa-rasanya sudah membendung di sudut
matanya meminta di keluarkan. Ayah tak
mengatakan apa-apa, sesekali ia melirik ke arah Renata yang masih berusaha
menahan tangis. Ayah menepuk ujung kepala Renata lembut seolah memberi tahu
Renata bahwa ia akan baik-baik saja. Renata menatap wajah Ayahnya yang
tersenyum samar. Di mata Ayah juga terlihat rasa terluka, seolah ikut menderita
melihatnya tersakiti.
“
Ayah..maaf.” cicit Renata. Ayah tak berucap hanya diam. Renata demi melihat
wajah Ayahnya tak sanggup lagi menahan tangis. Butiran-butiran bening meluncur
lancar dari sudut matanya. Gadis itu terisak-isak.
“
Maafin Renata yah, harusnya Renata nggak membantah Ayah. Harusnya Renata
mematuhi Ayah. Harusnya Renata nggak pernah menyukai Revo, harusnya
Renata..Renata..” Renata tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya. Air matanya
mengucur deras tanpa mampu dicegah apalagi dihentikan olehnya. Ayah
menghentikan laju mobil dan memandang Renata, menempelkan telunjunya di bibir
Renata mengisyaratkan agar gadis itu tak lagi berbicara.
“
Nggak ada yang perlu dimaafkan Renata. Biarlah yang terjadi menjadi pelajaran
bagimu. Kemari nak,” Ayah membuka lebar-lebar tangannya. Renata langsung
melemparkan dirinya ke pelukan Ayah menangis di dada Ayah. Ayah mendekap Renata
mengalirkan kehangatan. Cukup lama bagi Renata untuk kembali tenang dan
berhenti menangis.
“
Makasih Yah,” kata Renata. Ayah tesenyum geli melihat tampang Renata. Sangat
berantakan dengan ingus yang tidak tahu tempat.
“
Sana lap mukamu.” perintah Ayah sambil memberikan sebuah tisu. Mobil Ayah
kembali dijalankan membelah jalan di malam yang mulai larut. Sepanjang
perjalanan Renata tak henti-hentinya memandang wajah Ayah teringat kata-kata yang
diucapkan Ayah pada Revo. Gadis itu tersenyum samar. Renata. Selama 17 tahun
kehidupannya baru menyadari betapa besar kasih sayang Ayah pada dirinya.
*****
Memori
kilas balik Renata terhenti membawanya kembali ke masa kini. Renata kembali
tersenyum mengingat masa lalunya. Setelah kejadian itu Renata mendadak
menciptakan kriteria baru bagi calon tambatan hatiya, memberinya kehangatan dan
rasa aman sama seperti yang diberikan Ayah padanya.
“
Hei kamu di sini rupanya.” sebuah suara membuyarkan lamunan Renata. Renata
menolehkan kepalanya mencari Ayah. Tampaknya lamunan Renata membuatnya tak
menyadari bahwa Ayah telah menghilang dari kamarnya. Renata berjalan ke arah
suara yang memanggilnya.
“
Kamu kemana aja Ren. Acaranya udah mau mulai tau!” kata lelaki itu. Renata terkekeh.
“
Aku di sini aja kok, lagian kenapa kamu yang nyamperin aku? Nggak sabar banget
sih. Nggak tau ya budaya pingit?” cerocos Renata membuat lelaki itu tertawa.
“ Aku
disuruh Ayah kamu buat nyamperin kamu. Bukan mauku sendiri, kepedean banget sih
calon istriku ini.” Lelaki itu menjawil pipi Renata. Renata memberengut
mengikuti langkah lelaki itu yang terlebih dahulu meninggalkannya.
Hari
itu resmi sudah Renata menjadi seorang istri. Masih terpatri begitu jelas di
ingatan Renata ketika mata Ayah berkaca-kaca melihat putri semata wayangnya
mencium tangan lelaki yang kini menjadi suaminya.
“
Ayah berharap kau akan selalu bahagia Renata. Sampai kapanpun kau adalah putri
Ayah, tak peduli berapa tahun berlalu tak peduli berapa musim berlalu. Jika kau
merasa sedih kau bisa datang kapan saja kepada Ayah.” pesan Ayah.
“
Saya akan pastikan nggak akan ada air mata yang jatuh dari mata Renata Yah.
Saya berjanji akan membuatnya bahagia. Itu janji saya sebagai seorang pria.”
sahut lelaki yang menjadi suami Renata. Ayah hanya mengangguk pelan kembali
memandang Renata.
“
Bahagialah nak.” kata Ayahnya dalam hati.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar