Minggu, 25 Oktober 2015

Ayah (Last Part)



Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa Minggu pun datang kembali. Renata mematut bayangannya di depan cermin. Dress selutut yang dikenakannya terlihat begitu cocok tubuhnya. Renata kembali memandang bayangan dirinya di depan cermin sebelum memutuskan untuk keluar kamar. Langkahnya berhenti begitu melihat Ayah tengah duduk memandangnya.
            “ Mau pergi kemana kau Renata?” tanya Ayah.
            “ Renata mau pergi ke pesta ulang tahun temem Renata Yah.” jawab Renata. Ayah mengerutkan dahi melempar pandangan ke arah jam dinding.
            “ Selarut ini? Dengan siapa kau pergi?” Renata mengigit bibir, tidak mungkin ia berkata bahwa ia akan pergi sendirian. Ayah tidak akan mengizinkannya. Revo tidak bisa menjemput Renata jadilah ia harus pergi ke pesta ulang tahun Tiara sendirian. Tapi tidak mungkin penjelasan seperti itu akan memuaskan Ayah. Renata kembali memutar otak. Buntu.
            “ Ren...?” Ayah memanggil.

            “ Ya yah?”
            “ Dengan siapa kau pergi? Ini sudah larut.”
            “ Ini masih jam 8 Yah, belum terlalu malem. Renata pergi dengan..dengan....” Renata masih menggantungkan kalimatnya sebelum akhirnya Ayah berkata.
            “ Baiklah Ayah yang akan mengantarmu. Tunggu sebentar.” Ayah beranjak dari tempat duduknya membuat Renata melongo. Ia tidak salah dengar kan, Ayah mau mengantarnya. Renata bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia hanya mematung di tempatnya sampai-sampai Ayah harus memanggilnya.
            “ Ayo Renata!” Renata tergagap. Dilihatnya Ayah telah siap. Ayah benar-benar akan mengantarnya. Renata bergegas menyusul Ayah yang telah melangkah duluan keluar rumah.
            Mobil yang dinaiki Renata dan Ayah melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang tak terlalu ramai. Renata masih bungkam tidak tahu harus mengatakan apa, begitu juga dengan Ayah. Konsentrasinya hanya tertuju pada jalanan di depannya.
            “ Jadi siapa temanmu yang berulang tahun. Kenapa baru kali ini saja kau diundang? Bukankah tahun-tahun sebelumnya kau tidak pernah diundang?” Ayah membuka pembicaraan setelah hening yang begitu lama. Renata hanya mengedikan bahu. I
            “ Tiara Yah namanya. Renata juga nggak tahu kenapa tahun ini Renata diundang. Mungkin karena Renata pacar Revo. Revo kan cowok populer di sekolah Yah. Udah ganteng, atlet voli lagi. Pokoknya top banget deh Yah.” ucap Renata. Ayah melirik Renata seklias yang tampak begitu menggebu-gebu saat menceritakan pacarnya. Pria berusia 40 tahunan itu menghela napas pelan. Anak gadis semata wayangnya itu memang terlalu lugu, belum mengerti apa-apa. Karenanya sebagai Ayah wajar saja kalau ia merasa khawatir dengan kehidupan Renata, apalagi saat ini Renata mulai beranjak dewasa.
            Mobil yang dikendarai Ayah melambat begitu sampai di tujuan. Renata langsung keluar dari mobil tanpa mengucapkan apa-apa. Gadis itu bahkan tidak menyadari kalau Ayah  tidak jua pergi meninggalkannya. Tanpa disadari Renata Ayah mengekor di belakang Renata, mengikuti anak gadisnya itu menemui teman-temannya. Renata yang tidak menyadari keberadaan Ayahnya berjalan cukup cepat ingin segera menemui pujaan hatinya. Mata Renata membulat bahagia ketika melihat sosok Revo tak jauh dari dirinya. Renata mempercepat langkahnya, namun mendadak langkah Renata terhenti ketika mendengar percakapan Revo dengan kawannya.
            “ Lo hebat banget Vo..” Revo tersenyum mengejek.
            “ Jangan remehin gue, cewek begitu mah gampang aja. Tinggal rayu dikit udah klepek-klepek dia.” sahutnya. Kawan-kawan Revo tertawa mendengar perkataannya. Sementara Renata masih berdiri mematung berusaha mencerna perkataan Revo. Otaknya berproses berpikir cepat. Renata memejamkan matanya setengah mati ia menyangkal pikirannya yang memberitahunya bahwa ialah yang tengah dibicarakan Revo dan kawannya.
            “ Tapi cewek lo itu kok lama banget? Dia nggak nyasar kan? Lagian kenapa lo ngga jemput aja dia Vo?” tanya salah satu teman Revo. Revo menarik salah satu bibirnya, mencibir.
            “ Ngapain gue perlu repot-repot ngejemput tuh cewek. Dia kan udah cinta mati sama gue, tanpa gue jemput dia pasti dateng lah.”
            “ Vo, kamu janji kan setelah acara ini kamu bakalan putusin dia. Aku kesel tau liat kamu deket-deket sama dia, kan pacar sebenernya kamu tuh aku bukan dia,” tiba-tiba seorang gadis menyela menggelayut manja di lengan Revo. Revo tersenyum.
            “ Tentu sayang, pacar aku ya Cuma kamu. Cewek itu tuh Cuma jadi bahan taruhan kita aja kan.” Revo terbahak diikuti kawan-kawan di sekitarnya.
            Renata hanya bisa terdiam membisu menyaksikan dan mendengarkan perkataan Revo dan kawan-kawannya. Hatinya terasa sakit mendengar perkataan Revo. Apa katanya? Bahan taruhan. Renata sama sekali tidak pernah menyangkanya. Kenyataan bahwa Revo mempunyai pacar selain dirinya bahkan tidak lebih menyakitkan dibanding kenyataan bahwa ia hanyalah sebuah bahan taruhan. Dada Renata sesak, ia merasa kesulitan bernapas seolah oksigen pergi begitu saja. Setengah mati Renata menahan tangis. Hatinya memang sakit, tapi ia tidak mau menangis. Tidak. Ia tidak mau menangis demi lelaki yang bahkan tidak menganggapnya berarti. Renata membalikan tubuhnya melangkah pulang. Namun langkahnya terhenti saat ia menabrak seseorang. Tubuh yang begitu kokoh itu menyangga tubuh Renata. Renata mendongak menatap sosok itu. Ia terpekur begitu mengetahui sosok itu. Pria itu Ayah, tersenyum pelan. Renata membenamkan kepalanya ke tubuh Ayah berusaha mengubur rasa sakitnya. Ayah hanya mengelus-elus kepala Renata lembut tanpa kata.
            “ Tunggu di sini sebentar.” perintah Ayah pelan. Ayah melepaskan pelukannya kemudian berjalan pelan menuju kerumunan Revo dan kawan-kawannya. Napas pria itu menderu menahan amarah.
            “ Revo!” panggil Ayah. Revo dan kawan-kawannya yang masih cekikikan mendadak diam, menoleh. Revo mengernyit heran. Ia tidak mengenal pria di hadapannya. Ayah tersenyum yang justru malah membuatnya terlihat menyeringai. Mengerikan.
            “ Saya Ayahnya Renata.” kata Ayah. Revo terdiam gelagapan. Ia sama sekali tidak menduga Ayah Renata akan datang.
            “ Berani sekali kamu menyakiti putri saya. Selama ini saya membersarkannya penuh kasih sayang, berhati-hati agar ia tidak tersakiti. Kamu malah seenaknya membuatnya sedih dan melukai hatinya. Saya peringatkan kamu, jangan pernah menunjukan wajahmu di hadapan Renata atau kamu akan menyesal!” ancam Ayah membuat Revo pucat pasi. Ayah mengedarkan padangannya ke arah kawan-kawan Revo. “ Kalian juga, bisa-bisanya kalian malah membiarkan bahkan mendukung lelaki ini melukai Renata. Bukankah kalian ini teman-teman Revo. Kalau kalian benar-benar teman Revo seharusnya kalian mencegahnya berbuat hal yang buruk bukan malah membantunya dan menertawai Renata. Keterlaluan!” Ayah mendesis penuh emosi. Tak ada yang bersuara. Semua orang terdiam. Ayah kembali menatap Revo tajam.
            “ Ingat itu, jangan pernah berhubungan lagi dengan Renata! Mengerti.” hardik Ayah diikuti anggukan cepat Revo. Ayah langsung pergi meninggalkan Revo dan kawan-kawannya yang masih shock dengan kedatangan Ayah Renata.
            “ Ayo pulang Renata.” ajak Ayah. Renata hanya mengangguk kecil mengikuti Ayahnya yang melangkah lebih dulu.
            Mobil Ayah membelah jalan dengan kecepatan pelan. Sama seperti saat mereka berangkat, tak ada suara. Hanya suara mesin mobil yang memecah kesunyian. Renata masih setengah mati menahan air matanya yang rasa-rasanya sudah membendung di sudut matanya meminta di keluarkan. Ayah  tak mengatakan apa-apa, sesekali ia melirik ke arah Renata yang masih berusaha menahan tangis. Ayah menepuk ujung kepala Renata lembut seolah memberi tahu Renata bahwa ia akan baik-baik saja. Renata menatap wajah Ayahnya yang tersenyum samar. Di mata Ayah juga terlihat rasa terluka, seolah ikut menderita melihatnya tersakiti.
            “ Ayah..maaf.” cicit Renata. Ayah tak berucap hanya diam. Renata demi melihat wajah Ayahnya tak sanggup lagi menahan tangis. Butiran-butiran bening meluncur lancar dari sudut matanya. Gadis itu terisak-isak.
            “ Maafin Renata yah, harusnya Renata nggak membantah Ayah. Harusnya Renata mematuhi Ayah. Harusnya Renata nggak pernah menyukai Revo, harusnya Renata..Renata..” Renata tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya. Air matanya mengucur deras tanpa mampu dicegah apalagi dihentikan olehnya. Ayah menghentikan laju mobil dan memandang Renata, menempelkan telunjunya di bibir Renata mengisyaratkan agar gadis itu tak lagi berbicara.
            “ Nggak ada yang perlu dimaafkan Renata. Biarlah yang terjadi menjadi pelajaran bagimu. Kemari nak,” Ayah membuka lebar-lebar tangannya. Renata langsung melemparkan dirinya ke pelukan Ayah menangis di dada Ayah. Ayah mendekap Renata mengalirkan kehangatan. Cukup lama bagi Renata untuk kembali tenang dan berhenti menangis.
            “ Makasih Yah,” kata Renata. Ayah tesenyum geli melihat tampang Renata. Sangat berantakan dengan ingus yang tidak tahu tempat.
            “ Sana lap mukamu.” perintah Ayah sambil memberikan sebuah tisu. Mobil Ayah kembali dijalankan membelah jalan di malam yang mulai larut. Sepanjang perjalanan Renata tak henti-hentinya memandang wajah Ayah teringat kata-kata yang diucapkan Ayah pada Revo. Gadis itu tersenyum samar. Renata. Selama 17 tahun kehidupannya baru menyadari betapa besar kasih sayang Ayah pada dirinya.
*****
            Memori kilas balik Renata terhenti membawanya kembali ke masa kini. Renata kembali tersenyum mengingat masa lalunya. Setelah kejadian itu Renata mendadak menciptakan kriteria baru bagi calon tambatan hatiya, memberinya kehangatan dan rasa aman sama seperti yang diberikan Ayah padanya.
            “ Hei kamu di sini rupanya.” sebuah suara membuyarkan lamunan Renata. Renata menolehkan kepalanya mencari Ayah. Tampaknya lamunan Renata membuatnya tak menyadari bahwa Ayah telah menghilang dari kamarnya. Renata berjalan ke arah suara yang memanggilnya.
            “ Kamu kemana aja Ren. Acaranya udah mau mulai tau!” kata lelaki itu. Renata terkekeh.
            “ Aku di sini aja kok, lagian kenapa kamu yang nyamperin aku? Nggak sabar banget sih. Nggak tau ya budaya pingit?” cerocos Renata membuat lelaki itu tertawa.
          “ Aku disuruh Ayah kamu buat nyamperin kamu. Bukan mauku sendiri, kepedean banget sih calon istriku ini.” Lelaki itu menjawil pipi Renata. Renata memberengut mengikuti langkah lelaki itu yang terlebih dahulu meninggalkannya.
            Hari itu resmi sudah Renata menjadi seorang istri. Masih terpatri begitu jelas di ingatan Renata ketika mata Ayah berkaca-kaca melihat putri semata wayangnya mencium tangan lelaki yang kini menjadi suaminya.
            “ Ayah berharap kau akan selalu bahagia Renata. Sampai kapanpun kau adalah putri Ayah, tak peduli berapa tahun berlalu tak peduli berapa musim berlalu. Jika kau merasa sedih kau bisa datang kapan saja kepada Ayah.” pesan Ayah.
            “ Saya akan pastikan nggak akan ada air mata yang jatuh dari mata Renata Yah. Saya berjanji akan membuatnya bahagia. Itu janji saya sebagai seorang pria.” sahut lelaki yang menjadi suami Renata. Ayah hanya mengangguk pelan kembali memandang Renata.
            “ Bahagialah nak.” kata Ayahnya dalam hati.
END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar