Pernah
dengar 7 misteri sekolah? Kalau kau adalah anak sekolah ku jamin jawabannya
adalah iya, kalau tidak kau mungkin kelewat kuper sampai-sampai cerita ini
tidak terdengar di telingamu. Setiap sekolah entah itu sekolah elit ataupun
sekolah pinggiran selalu menyimpan misteri yang boleh dikata menjadi rahasia
umum. Keberadaannya sulit dicari, tapi semua orang mengetahuinya. Ada yang memilih untuk percaya tak jarang
pula yang memilih untuk mengabaikannya, menganggap semua itu hanya omong kosong
belaka. Lalu dimana posisimu? Apakah kau termasuk orang yang mempercayainya?
Atau kau justru malah tak mempedulikannya? Baiklah mungkin untuk membantumu,
aku akan menceritakan 7 kisah misteri di sekolah, berhati-hatilah siapa tahu
salah satu kisah ini ada di sekolahmu.
Misteri 1( Piano )
Hari
masih pagi, jarum jam masih jauh mencapai angka 7. Ia masih tertambat pada
angka 6.30, namun suasana di kelas X-4 sudah sangat ramai melebihi pasar kota.
Bisik-bisik siswsa membuat kelas semakin gaduh saja. Ada apa gerangan yang
diributkan sepagi ini? Ternyata sebuah gosip telah beredar luas di kalangan
siswa X-4. Entah hanya gosip ataupun cerita sungguhan, namun topik ini langsung
menjadi topik terhangat. Bahkan banyak yang rela berangkat pagi-pagi hanya
untuk mendengarkan cerita ini.
Adalah
seorang gadis manis berkuncir kuda yang menjadi pusat perhatian satu kelas.
Gadis itu bernama Dera. Sepagi itu ia sibuk menceritakan kisah yang dialaminya
kepada teman sekelasnya. Banyak teman sekelasnya yang mengangguk-angguk paham,
tapi banyak pula yang berbisik mencibir tidak percaya dengan apa yang dikatakan
Dera.
“
Der, kamu sungguhan mendengarnya?” tanya Hanung, salah satu teman Dera untuk
yang kesekian kalinya. Dera mengangguk mantap bahkan sambil mengacungkan dua
jarinya tanda bersumpah.
“
Suer Nung, aku denger sendiri. Suara piano terdengar dari dalam ruang musik.”
jawab Dera. Beberapa teman di sekelilingnya mengernyit.
“
Bukankah di sekolah kita nggak ada piano, lalu bagaimana mungkin kamu
mendengarnya Der?” Dera tersenyum pelan.
“
Emangnya kamu nggak pernah denger cerita ini dari kakak kelas? Dulu ada anak
yang sangat jenius dalam memainkan piano. Tapi, anak itu begitu tertekan karena
terus dipaksa mengikuti kontes piano yang tidak ia inginkan. Ia sangat
mencintai piano tapi ia nggak suka ikut kontes, makanya ia pun memutuskan bunuh
diri di dekat pianonya. Kabarnya piano itu dipindahkan oleh pihak sekolah
karena setelah kejadian itu banyak anak terluka saat memainkan pianonya.
Terkadang suara piano masih tetap terdengar dari ruang musik. Konon gadis itu
masih suka memainkan pianonya.” jelas Dera. Beberapa pasang mata membulat
terkejut dengan penjelasan Dera.
“
Aku baru tau ada cerita seperti itu.” komentar salah satu teman Dera. Dalam
hati Dera terkikik geli. Mau-maunya saja teman-temannya ia bohongi. Mana pernah
Dera ke sekolah pada malam hari. Saat matahari mulai terbenam saja ia sudah
akan ngibrit pulang ke rumah. Soal cerita itu, tentu saja Dera hanya membual.
Sejak kecil ia pandai bercerita. Satu cerita bohong tentu bukan masalah buat
Dera. Dera sangat paham jika teman-temannya sangat penasaran dengan salah satu
rumor di sekolah mereka, maka Dera memanjangkan telinganya dan membumbui cerita
itu agar terdengar lebih menarik.
Sesuai
dugaan hanya dengan memasang status di salah satu media sosialnya, esoknya
teman-temannya gempar berebut ingin tahu. Benarkah cerita Dera, apakah benar
malam hari ada suara Piano di ruang musik sekolah mereka? Kira-kirabegitulah
pertanyaan yang muncul ketika Dera melangkahkan kakinya ke kelas. Tersenyum
puas Derapun menceritakan pengalaman bohongnya pada teman-temannya. Memang ada
beberapa yang tidak percaya. Tapi apa peduli Dera, toh lebih banyak temannya
yang percaya ceritanya ketimbang mereka yang hanya mencibir menganggap Dera
berbohong.
Dera
masih asyik bercerita ketika Jaka, salah satu teman sekelasnya mendekat. Jaka
adalah salah satu siswa teraneh di kelasnya. Penampilannya sangat cupu dengan
kemeja kebesaran dan kacamata bulatnya yang menelan hampir separuh wajahnya.
Yang membuatnya bertambah aneh, terkadang lelaki itu menggumamkan kata-kata
yang tidak pernah dipahami orang lain. Jaka semakin mendekati Dera yang masih
asyik bercerita pada temannya. Dera sama sekali tidak menyadari Jaka berada
sangat dekat dengannya sampai akhirnya Jaka menepuk pundak Dera cukup keras
membuat gadis itu terlonjak.
“
Apa?” tanya Dera ketus begitu melihat sosok Jaka. Jaka diam namun sorot matanya
begitu tajam di ballik kacamatanya yang kebesaran. Dera menelan ludah gugup,
tak pernah sekalipun seseorang menatapnya setajam itu. Jaka tampak menggumamkan
sesuatu yang tak pernah dimengerti Dera ataupun teman sekelasnya. Lelaki itu
kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Dera membisikan sesuatu yang sukses
membuat lutut Dera lemas.
“
Jangan berbohong, atau arwah itu akan benar-benar menghantuimu.” ucapan Jaka
kepada Dera terus terngiang di telinganya bahkan sampai bel pulang sekolah
berbunyi. Setelah Jaka membisikan hal mengerikan itu, bibir Dera serasa kelu
untuk bicara. Sepanjang pelajaran, sikap Dera berubah 180 derajat dibandingkan
sebelumnya. Gadis itu sangat memikirkan perkataan Jaka.
****
Matahari
sudah hampir tenggelam di ufuk Barat saat Dera selesai dari ekskul
jurnalistiknya. Gadis itu memandang sekitar sekolah, sangat sepi. Tadi Dera
kebagian membersihkan ruang jurnalistik, jadi teman-teman satu ekskulnya pulang
terlebih dahulu. Suara burung gagak entah mengapa terdengar membuat bulu kuduk
Dera berdiri semua. Dera melangkahkan kakinya dengan cepat. Ia ingin segera
sampai di rumahnya sebelum malam. Namun mendadak langkahnya terhenti di depan
ruang musik. Sayup-sayup Dera mendengar suara piano yang semakin lama terdengar
semakin jelas. Dera membeku. Jantungnya berdetak kencang, keringat dingin
mengucur deras di tubuhnya. Dera ingin lari dari sana, tapi kakinya tak dapat
digerakan. Badan Dera gemetar ketakutan. Suara piano itu terdengar lebih jelas
dan keras, seolah-olah dimainkan tepat di telinga Dera. Dera memejamkan
matanya. Napasnya menderu kencang. Ia benar-benar ketakutan.
Tak
tahu sudah berapa lama waktu berlalu, suara piano yang didengar Dera mulai
melemah sampai akhirnya tak terdengar lagi. Dera yang masih mematung diam di tempatnya
perlahan membuka mata. Senja itu Dera berharap, seharusnya tak pernah ia buka
matanya itu. Tepat di depannya muncul gadis pemain piano itu. Dengan rambut
acak-acakan, ia menyeringai pada Dera mengerikan. Wajahnya pucat dengan bekas
darah dimana-mana. Dera rasanya ingin pingsan melihat sosok di depannya,
apalagi mendengar ia berbisik di telinganya.
“
Kau mendengarnya bukan? Suara piano itu, requiem. Selamat tinggal!” Dera
menjerit. Ia mengumpulkan sisa-sisa keberanian dan tenaganya berlari menjauhi
makhluk itu yang hanya terkekeh mengerikan sebelum akhirnya menghilang dari
pandangan.
Dera
berlari kencang. Tak sedikitpun ia berani menoleh ke belakang. Kata-kata
makhluk itu masih terngiang jelas di telinganya. “ Apakah ia akan membunuhnku?” pikir Dera. Ia menyesal sekali. Kenapa
pula ia perlu bermulut besar dan menceritakan hal-hal bohong pada
teman-temannya. Dera terisak. Ia teringat perkataan Jaka. Dera berhenti
berlari. Jaka. Lelaki itu pasti bisa membantunya. Tapi Dera bahkan tidak tahu
dimana ia tinggal. Tidak. Dera masih bisa bertemu dengannya di sekolah. Ia
hanya perlu bersabar.
Mungkin
keberuntungan masih ada di sisi Dera. Saat ia sudah dekat dengan rumahnya,
gadis itu melihat sosok Jaka tengah berkeliaran tidak jelas. Mata Dera berbinar
bahagia. Dengan segera Dera berlari ke arah Jaka dan memanggilnya.
“
Jaka!” seru Dera membuat Jaka menoleh. Wajah terkejut lelaki itu tak dapat di
sembunyikan ketika melihat Dera.
“ A
ada apa Dera?” tanya Jaka. Dera diam, mengambil napas dalam-dalam. Terlalu
senang membuatnya tidak menyadari energinya telah terkuras habis.
“
Kamu mau membantuku kan Jak? Tolonglah tadi aku mendengar suara piano itu, lalu
tampaknya arwah gadis itu muncul di depanku. Tolong Jak kamu tau sesuatu kan?”
mohon Dera. Jaka mengernyit. Sungguh lelaki itu tidak mengerti apa yang
diucapkan teman sekelasnya itu.
“
Ap apa maksudmu Dera? Aku sama sekali nggak ngerti. Piano, piano apa?”
tanyanya. Dera memandang Jaka dengan pandangan yang sulit dimengerti.
“
Bukankah tadi pagi kamu memperingatkanku?” tanyanya. Jaka hanya melongo
mendengar ucapan Dera. Sedetik berikutnya lelaki itu menggeleng keras.
“
Aku nggak bilang apa-apa padamu tadi pagi. Lagi pula hari ini aku nggak masuk
sekolah. “ Ucapan Jaka membuat Dera bagai tersambar petir. Meskipun Jaka telah
berlalu, namun Dera masih tidak beranjak di tempatnya. Ucapan Jaka
terngiang-ngiang di telinga Dera. Kalau bukan Jaka, lalu siapa yang
memperingatinya tadi pagi? Telinga Dera seperti di tiup seseorang membuatnya
menoleh. Seringai itu memantul di bola matanya membuat Dera benar-benar tak
mampu bergerak.
“
Selamat tinggal” desisnya. Dera menjerit tertahan sebelum akhirnya dunianya
menjadi gelap. Suara piano kembali terdengar di ujung kesadarannya. Requiem.
Lagu kematian. Di ujung kesadarannya Dera melihat bola mata makhluk itu. Sorot
mata penuh dendam dan kebencian. Dera menyadarinya, tapi percuma karena saat
itu juga jiwanya telah terkurung dalam alunan nada-nada piano. Ia hanya bisa
menunggu, menuggu seseorang lainnya mendengar alunan nada piano itu dan
menukarnya dengan jiwa miliknya. Sama seperti yang dilakukan makhuk itu padanya
yang kini bebas menggunakan tubuh miliknya.
Bagaimana
kisah misteri sekolah yang pertama. Apakah kau menikmatinya? Sudahkah kau
percaya tentang misteri-misteri itu? Kau masih belum percaya. Tak apa aku masih
punya kisah lain untuk diceritakan padamu. Mungkin saja cerita-ceritaku nanti
bisa membuatmu percaya. Atau kau punya argumen untuk membantah semua ceritaku?
Tak apa katakan saja yang kau pikirkan. Sekarang kau pasti berpikir siapa aku?
Hmm baiklah mungkin aku bisa memperkenalkan diri padamu. Aku adalah si
Pencerita. Akulah yang menceritakan pada kalian kisah-kisah misteri di sekolah
membuat kalian penasaran dan ketakutan. Dari mana aku mendapat kisah itu
bukanlah pertanyaannya. Jadi bersiaplah mungkin aku saat ini berada di antara
kalian, siap menyebarkan teror misteri ini. Kau ketakutan? Untuk apa, kisahku
masih panjang untuk membuat bulu kudukmu merinding.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar