Selasa, 27 Oktober 2015

7 Misteri Sekolah (Episode 1)



            Pernah dengar 7 misteri sekolah? Kalau kau adalah anak sekolah ku jamin jawabannya adalah iya, kalau tidak kau mungkin kelewat kuper sampai-sampai cerita ini tidak terdengar di telingamu. Setiap sekolah entah itu sekolah elit ataupun sekolah pinggiran selalu menyimpan misteri yang boleh dikata menjadi rahasia umum. Keberadaannya sulit dicari, tapi semua orang mengetahuinya.  Ada yang memilih untuk percaya tak jarang pula yang memilih untuk mengabaikannya, menganggap semua itu hanya omong kosong belaka. Lalu dimana posisimu? Apakah kau termasuk orang yang mempercayainya? Atau kau justru malah tak mempedulikannya? Baiklah mungkin untuk membantumu, aku akan menceritakan 7 kisah misteri di sekolah, berhati-hatilah siapa tahu salah satu kisah ini ada di sekolahmu.
*****
Misteri 1( Piano )
            Hari masih pagi, jarum jam masih jauh mencapai angka 7. Ia masih tertambat pada angka 6.30, namun suasana di kelas X-4 sudah sangat ramai melebihi pasar kota. Bisik-bisik siswsa membuat kelas semakin gaduh saja. Ada apa gerangan yang diributkan sepagi ini? Ternyata sebuah gosip telah beredar luas di kalangan siswa X-4. Entah hanya gosip ataupun cerita sungguhan, namun topik ini langsung menjadi topik terhangat. Bahkan banyak yang rela berangkat pagi-pagi hanya untuk mendengarkan cerita ini.
            Adalah seorang gadis manis berkuncir kuda yang menjadi pusat perhatian satu kelas. Gadis itu bernama Dera. Sepagi itu ia sibuk menceritakan kisah yang dialaminya kepada teman sekelasnya. Banyak teman sekelasnya yang mengangguk-angguk paham, tapi banyak pula yang berbisik mencibir tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dera.
            “ Der, kamu sungguhan mendengarnya?” tanya Hanung, salah satu teman Dera untuk yang kesekian kalinya. Dera mengangguk mantap bahkan sambil mengacungkan dua jarinya tanda bersumpah.
            “ Suer Nung, aku denger sendiri. Suara piano terdengar dari dalam ruang musik.” jawab Dera. Beberapa teman di sekelilingnya mengernyit.
            “ Bukankah di sekolah kita nggak ada piano, lalu bagaimana mungkin kamu mendengarnya Der?” Dera tersenyum pelan.
            “ Emangnya kamu nggak pernah denger cerita ini dari kakak kelas? Dulu ada anak yang sangat jenius dalam memainkan piano. Tapi, anak itu begitu tertekan karena terus dipaksa mengikuti kontes piano yang tidak ia inginkan. Ia sangat mencintai piano tapi ia nggak suka ikut kontes, makanya ia pun memutuskan bunuh diri di dekat pianonya. Kabarnya piano itu dipindahkan oleh pihak sekolah karena setelah kejadian itu banyak anak terluka saat memainkan pianonya. Terkadang suara piano masih tetap terdengar dari ruang musik. Konon gadis itu masih suka memainkan pianonya.” jelas Dera. Beberapa pasang mata membulat terkejut dengan penjelasan Dera.
            “ Aku baru tau ada cerita seperti itu.” komentar salah satu teman Dera. Dalam hati Dera terkikik geli. Mau-maunya saja teman-temannya ia bohongi. Mana pernah Dera ke sekolah pada malam hari. Saat matahari mulai terbenam saja ia sudah akan ngibrit pulang ke rumah. Soal cerita itu, tentu saja Dera hanya membual. Sejak kecil ia pandai bercerita. Satu cerita bohong tentu bukan masalah buat Dera. Dera sangat paham jika teman-temannya sangat penasaran dengan salah satu rumor di sekolah mereka, maka Dera memanjangkan telinganya dan membumbui cerita itu agar terdengar lebih menarik.
            Sesuai dugaan hanya dengan memasang status di salah satu media sosialnya, esoknya teman-temannya gempar berebut ingin tahu. Benarkah cerita Dera, apakah benar malam hari ada suara Piano di ruang musik sekolah mereka? Kira-kirabegitulah pertanyaan yang muncul ketika Dera melangkahkan kakinya ke kelas. Tersenyum puas Derapun menceritakan pengalaman bohongnya pada teman-temannya. Memang ada beberapa yang tidak percaya. Tapi apa peduli Dera, toh lebih banyak temannya yang percaya ceritanya ketimbang mereka yang hanya mencibir menganggap Dera berbohong.
            Dera masih asyik bercerita ketika Jaka, salah satu teman sekelasnya mendekat. Jaka adalah salah satu siswa teraneh di kelasnya. Penampilannya sangat cupu dengan kemeja kebesaran dan kacamata bulatnya yang menelan hampir separuh wajahnya. Yang membuatnya bertambah aneh, terkadang lelaki itu menggumamkan kata-kata yang tidak pernah dipahami orang lain. Jaka semakin mendekati Dera yang masih asyik bercerita pada temannya. Dera sama sekali tidak menyadari Jaka berada sangat dekat dengannya sampai akhirnya Jaka menepuk pundak Dera cukup keras membuat gadis itu terlonjak.
            “ Apa?” tanya Dera ketus begitu melihat sosok Jaka. Jaka diam namun sorot matanya begitu tajam di ballik kacamatanya yang kebesaran. Dera menelan ludah gugup, tak pernah sekalipun seseorang menatapnya setajam itu. Jaka tampak menggumamkan sesuatu yang tak pernah dimengerti Dera ataupun teman sekelasnya. Lelaki itu kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Dera membisikan sesuatu yang sukses membuat lutut Dera lemas.
            “ Jangan berbohong, atau arwah itu akan benar-benar menghantuimu.” ucapan Jaka kepada Dera terus terngiang di telinganya bahkan sampai bel pulang sekolah berbunyi. Setelah Jaka membisikan hal mengerikan itu, bibir Dera serasa kelu untuk bicara. Sepanjang pelajaran, sikap Dera berubah 180 derajat dibandingkan sebelumnya. Gadis itu sangat memikirkan perkataan Jaka.
****
            Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk Barat saat Dera selesai dari ekskul jurnalistiknya. Gadis itu memandang sekitar sekolah, sangat sepi. Tadi Dera kebagian membersihkan ruang jurnalistik, jadi teman-teman satu ekskulnya pulang terlebih dahulu. Suara burung gagak entah mengapa terdengar membuat bulu kuduk Dera berdiri semua. Dera melangkahkan kakinya dengan cepat. Ia ingin segera sampai di rumahnya sebelum malam. Namun mendadak langkahnya terhenti di depan ruang musik. Sayup-sayup Dera mendengar suara piano yang semakin lama terdengar semakin jelas. Dera membeku. Jantungnya berdetak kencang, keringat dingin mengucur deras di tubuhnya. Dera ingin lari dari sana, tapi kakinya tak dapat digerakan. Badan Dera gemetar ketakutan. Suara piano itu terdengar lebih jelas dan keras, seolah-olah dimainkan tepat di telinga Dera. Dera memejamkan matanya. Napasnya menderu kencang. Ia benar-benar ketakutan.
            Tak tahu sudah berapa lama waktu berlalu, suara piano yang didengar Dera mulai melemah sampai akhirnya tak terdengar lagi. Dera yang masih mematung diam di tempatnya perlahan membuka mata. Senja itu Dera berharap, seharusnya tak pernah ia buka matanya itu. Tepat di depannya muncul gadis pemain piano itu. Dengan rambut acak-acakan, ia menyeringai pada Dera mengerikan. Wajahnya pucat dengan bekas darah dimana-mana. Dera rasanya ingin pingsan melihat sosok di depannya, apalagi mendengar ia berbisik di telinganya.
            “ Kau mendengarnya bukan? Suara piano itu, requiem. Selamat tinggal!” Dera menjerit. Ia mengumpulkan sisa-sisa keberanian dan tenaganya berlari menjauhi makhluk itu yang hanya terkekeh mengerikan sebelum akhirnya menghilang dari pandangan.
            Dera berlari kencang. Tak sedikitpun ia berani menoleh ke belakang. Kata-kata makhluk itu masih terngiang jelas di telinganya. “ Apakah ia akan membunuhnku?” pikir Dera. Ia menyesal sekali. Kenapa pula ia perlu bermulut besar dan menceritakan hal-hal bohong pada teman-temannya. Dera terisak. Ia teringat perkataan Jaka. Dera berhenti berlari. Jaka. Lelaki itu pasti bisa membantunya. Tapi Dera bahkan tidak tahu dimana ia tinggal. Tidak. Dera masih bisa bertemu dengannya di sekolah. Ia hanya perlu bersabar.
            Mungkin keberuntungan masih ada di sisi Dera. Saat ia sudah dekat dengan rumahnya, gadis itu melihat sosok Jaka tengah berkeliaran tidak jelas. Mata Dera berbinar bahagia. Dengan segera Dera berlari ke arah Jaka dan memanggilnya.
            “ Jaka!” seru Dera membuat Jaka menoleh. Wajah terkejut lelaki itu tak dapat di sembunyikan ketika melihat Dera.
            “ A ada apa Dera?” tanya Jaka. Dera diam, mengambil napas dalam-dalam. Terlalu senang membuatnya tidak menyadari energinya telah terkuras habis.
            “ Kamu mau membantuku kan Jak? Tolonglah tadi aku mendengar suara piano itu, lalu tampaknya arwah gadis itu muncul di depanku. Tolong Jak kamu tau sesuatu kan?” mohon Dera. Jaka mengernyit. Sungguh lelaki itu tidak mengerti apa yang diucapkan teman sekelasnya itu.
            “ Ap apa maksudmu Dera? Aku sama sekali nggak ngerti. Piano, piano apa?” tanyanya. Dera memandang Jaka dengan pandangan yang sulit dimengerti.
            “ Bukankah tadi pagi kamu memperingatkanku?” tanyanya. Jaka hanya melongo mendengar ucapan Dera. Sedetik berikutnya lelaki itu menggeleng keras.
            “ Aku nggak bilang apa-apa padamu tadi pagi. Lagi pula hari ini aku nggak masuk sekolah. “ Ucapan Jaka membuat Dera bagai tersambar petir. Meskipun Jaka telah berlalu, namun Dera masih tidak beranjak di tempatnya. Ucapan Jaka terngiang-ngiang di telinga Dera. Kalau bukan Jaka, lalu siapa yang memperingatinya tadi pagi? Telinga Dera seperti di tiup seseorang membuatnya menoleh. Seringai itu memantul di bola matanya membuat Dera benar-benar tak mampu bergerak.
            “ Selamat tinggal” desisnya. Dera menjerit tertahan sebelum akhirnya dunianya menjadi gelap. Suara piano kembali terdengar di ujung kesadarannya. Requiem. Lagu kematian. Di ujung kesadarannya Dera melihat bola mata makhluk itu. Sorot mata penuh dendam dan kebencian. Dera menyadarinya, tapi percuma karena saat itu juga jiwanya telah terkurung dalam alunan nada-nada piano. Ia hanya bisa menunggu, menuggu seseorang lainnya mendengar alunan nada piano itu dan menukarnya dengan jiwa miliknya. Sama seperti yang dilakukan makhuk itu padanya yang kini bebas menggunakan tubuh miliknya.
            Bagaimana kisah misteri sekolah yang pertama. Apakah kau menikmatinya? Sudahkah kau percaya tentang misteri-misteri itu? Kau masih belum percaya. Tak apa aku masih punya kisah lain untuk diceritakan padamu. Mungkin saja cerita-ceritaku nanti bisa membuatmu percaya. Atau kau punya argumen untuk membantah semua ceritaku? Tak apa katakan saja yang kau pikirkan. Sekarang kau pasti berpikir siapa aku? Hmm baiklah mungkin aku bisa memperkenalkan diri padamu. Aku adalah si Pencerita. Akulah yang menceritakan pada kalian kisah-kisah misteri di sekolah membuat kalian penasaran dan ketakutan. Dari mana aku mendapat kisah itu bukanlah pertanyaannya. Jadi bersiaplah mungkin aku saat ini berada di antara kalian, siap menyebarkan teror misteri ini. Kau ketakutan? Untuk apa, kisahku masih panjang untuk membuat bulu kudukmu merinding.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar