Pernahkah kau melihat sekelilingmu
mengamati apa yang seharusnya ada tapi tak ada. Atau apa yang seharusnya tidak
ada tiba-tiba muncul begitu saja tanpa penjelasan. Hari ini aku akan
melanjutkan kisahku. Kisah yang mungkin akan sedikit membuat matamu terbuka.
Kisah ini pastilah sering kau dengar saat kau mengenakan seragam baik itu putih
biru atau putih abu. Kau pastilah pernah mendengarnya. Atau kau masih mengelak
tak pernah mendengarnya? Baiklah akan aku ceritakan kisah ini padamu.
Misteri 2 : Model Rangka
Malam
yang menyelimutkan kegelapan pada dunia masih panjang. Baru sekitar 2 jam yang
lalu matahari dengan anggunnya menghilangkan diri di ufuk barat. Bulan tak
muncul malam itu, mendung tebal menghalangi cahayanya. Angin bertiup sangat
kencang. Tampaknya hujan badai akan datang. Di salah satu lorong sekolah, sebuah
bayangan berjalan cukup cepat. Tak ada yang tahu bayangan apa itu. Di tengah
kegelapan malam yang hanya dicoroti cahaya lampu yang remang, tidak ada yang
sempat mengamati pemandangan yang sebenarnya cukup ganjil. Bahkan sang penjaga sekolah lebih memilih berdiam
diri di posnya ketimbang berkeliling sekolah. Bayangan itu jika dilihat lebih
jelas membentuk sebuah tubuh manusia bagian atas. Bayangan itu hanya
mondar-mandir di salah satu ruangan dan koridor sekolah. Tidak ada yang tahu
apa itu dan tidak ada pula yang menyadarinya.
Pagi
datang. Matahari mulai kembali bersinar. Aktivitas orang-orang dimulai lagi.
Rutinitas yang biasa dijalani. Bangun dari tidur, dan pergi bekerja atau
bersekolah. Di salah satu sekolah pagi itu mungkin menjadi pagi yang paling
berisik yang pernah ada. Bisik-bisik beredar dari satu telinga ke telinga lain.
Begitu cepat bagai angin badai.
“
Ada apa?” Ronald bertanya pada Kana.
“
Kamu belum denger beritanya Ron?” tanya Kana. Ronald mengernyit. Berita apa. Ia
bahkan baru saja menginjakan kaki di sekolah, mana mungkin ada berita mampir ke
telinganya.
“
Berita, berita apa?” desak Ronald. Kana mendekatkan bibirnya pada telinga
Ronald. Mata Ronald membulat terkejut.
“
Beneran?” Ia memandang Kana dengan pandangan tidak percaya. Kana mengangguk
cepat menambahkan. “ Suer deh, kak Deni sendiri yang ngeliat. Sekarang lagi
dipindahin lagi ke lab sains.” Ronald menyibak tubuh Kana yang berdiri di
depannya berlari ke arah laboratorium sains. Rasa penasarannya membuatnya
bahkan tidak mempedulikan teriakan orang-orang yang tak sengaja tertabrak Ronald.
Benda
yang menjadi berita itu telah kembali ke tempatnya. Berdiri manis di balik
lemari kaca. Tidak tampak hal yang aneh, kecuali berita-berita yang menyebar.
Ronald mendekat mengamati lebih jeli benda yang jadi bahan pembicaraan itu.
Tidak ada yang aneh, model rangka manusia yang sering menjadi praktik biologi
itu masih berdiri dengan tegak. Ronald menaikan alisnya. Tidak mungkin benda
mati bisa bergerak sendiri. Pastilah ada seseorang yang memindahkannya, sengaja
membuat gosip. Ronald menghembuskan napas. Ia membalikan tubuhnya kembali ke
kelas. Di saat itulah Ronald merasa ada sesuatu yang memandangnya bahkan
mengawasinya. Ronald membalikan tubuhnya. Tidak ada apa-apa. Orang-orang sudah
meninggalkan laboratorium karena bel telah berbunyi beberapa menit yang lalu.
Ronald baru menyadari betapa sunyi dan sepinya ruang lab. Ronald kembali
mengedarkan pandangannya ke seluruh arah. Ia benar-benar merasa ada yang
mengawasinya. Saat ia menatap model rangka itu entah mengapa tiba-tiba badannya
merinding. Ruang bola mata model itu seolah-olah melihatnya dan memandangnya.
Ronald bertambah terkejut saat tulang rahang model itu bergerak seolah membuat
seringai. Ronald melangkah mundur dan kemudian berlari meninggalkan ruangan.
“
Ada apa Ron?” Kana kembali bertanya melihat Ronald terengah-engah memasuki
kelas. Ronald menggeleng pelan. Ia masih terkejut dengan kejadian yang baru
saja ia alami. Sebagian dari dirinya meyakinkan kalau ia hanya berimajinasi,
namun sebagian dari dirinya mengatakan
hal yang dialaminya nyata dan bukan ilusi.
Sepanjang
jam pelajaran, tidak ada satupun ucapan dari gurunya yang masuk di otak Ronald.
Pikirannya penuh dengan model rangka yang tergeletak di lab sains. Berita tadi
pagi dan kejadian yang dialaminya membuatnya tidak dapat mengenyahkan model rangka
itu dari pikirannya. Kudengar model rangka
di ruang sains semalam berpindah. Aneh sekali padahal nggak ada orang di
sekolah semalam. Ternyata benar cerita itu, model itu dirasuki roh halus.
Begitulah berita yang tersebar pagi ini.
“
Gimana kalau kita patroli malem ini?” tanya Ronald saat jam istirahat
berlangsung.
“
Maksudmu?” Kana balas bertanya
“
Untuk membuktikan apakah model rangka itu benar-benar bergerak atau nggak.”
jawab Ronald.
“
Kau gila! Buat apa aku datang hanya demi melihat hantu rangka. Lebih baik aku
tidur di rumah.” tukas Kana.
“
Kau takut?” ledek Ronald. Kana menggeleng. “ Kau takut.” tuduh lelaki itu
pendek membuat Kana meradang.
“
Baiklah. Baiklah aku ikuti saja rencanamu.” tutur Kana akhirnya, membuat Ronald
terkekeh dan tersenyum puas.
****
Malam
kembali datang. Sama seperti malam lainnya hanya saja kali ini cahaya bulan
sedikit menyembul dibalik tebalnya awan yang menyelimuti langit malam. Dua
orang remaja diam-diam menerobos masuk sekolah. Dua remaja itu Ronald dan Kana.
Ronald yang ingin memuaskan rasa penasarannya menyeret Kana ikut menyelidiki
model rangka yang menjadi berita. Jarum jam menunjuk angka 11. Ronald masuk ke
dalam gedung sekolah yang memang tidak terkunci dan langsung menuju ruang lab
sains. Kana mengikuti di belakangnya sesekali mengeluh. Gadis itu benci sekali
bersedia menemani Ronald datang ke sekolah malam-malam. Padahal seharusnya ia
tengah memejamkan mata berguling dengan mimpi.
Lab
Sains terasa begitu sunyi dan mencekam. Benda-benda yang menjadi bahan praktik
masih tersusun dengan rapih di tempatnya. Berjingkat-jingkat Ronald dan Kana
mendekati model rangka. Model itu masih berada di tempatnya sama seperti pagi
tadi. Tak ada yang aneh. Tidak ada pula pandangan yang seolah mengawasi Ronald.
Rondal menghela napas lega. Mungkin pandangan yang ia rasakan tadi hanya
imajinasinya saja.
“
Nggak ada yang aneh dengan model rangka ini. Orang-orang hanya melebih-lebihkan
saja.” keluh Kana. Ronald mengangguk setuju.
“
Ayo pulang , nggak ada hal yang perlu diselidiki lagi.” ucap Ronald. Kana
mencibir.
“
Gayamu sok mirip detektif aja.” Ronald hanya menanggapi Kana dengan cengiran
lebar di bibirnya.
Jam
menunjukan angka 12 ketika mereka memutuskan untuk pulang. Saat itulah
tiba-tiba saja suasana di lab sains berubah. Terdengar suara berdecit seperti
benda di geser. Ronald dan Kana mendadak menghentikan langkah. Ronald kembali
merasakan sesuatu memandangnya. Ronald dan Kana sontak membalikan badan. Mata
Ronald melotot melihat pemandangan di depannya. Begitu juga dengan Kana yang
langsung bergetar memegang erat lengan Ronald. Model rangka itu perlahan-lahan
bergerak membuka lemari kaca yang mengurungnya. Tatapan tanpa mata dari model
itu membuat tubuh Ronald gemetar. Ronald ingin lari tapi langkahnya terasa
berat.
“
Roon.” cicit Kana.
“
Lari..” seru Ronald mengumpulkan keberaniannya dan menarik Kana keluar dari lab
sains. Ronald menggenggam tangan Kana kencang berlari ke luar sekolah. Ia tidak
berani menengok ke belakang. Namun suara panggilan keras dari Kana membuatnya
terpaksa berhenti.
“
Ronald kenapa kamu ninggalin aku” jerit Kana. Ronald membalikan badannya dan
terkejut setengah mati. Tangan yang sedari tadi ia genggam bukanlah tangan Kana
melainkan tangan model rangka itu. Wajah Ronald begitu dekat dengan wajah model
rangka itu. Tulang rahangnya yang bergerak-gerak membuat Ronald bergidig ngeri.
Tapi sesaat kemudian Ronald mengernyit. Ia baru saja menyadarinya setelah
begitu dekat dengan model rangka itu. Tulang-tulang yang membentuk model itu
tidak sama seperti model rangka yang sering ia lihat. Bahkan kini Ronald baru
menyadari tangan model rangka yang sedari tadi digenggamnya itu beratnya sama
persis dengan tulang manusia. Ketakutakn Ronald mulai meluruh diganti rasa
penasaran. Ia mengumpulkan keberaniannya yang sempat tercecer. Ronald mengamati
model rangka di hadapannya dan seketika ia terkejut. Model rangka itu tidak
terbuat dari plastik, melainkan hal yang sangat tak diduganya. Model rangka itu
benar-benar terbuat dari tulang manusia. Ronald mengerti, karena ia sering
membantu ayahnya yang bekerja sebagai seorang osteologist (ahli tulang). Ronald
kembali memandang model rangka di depannya. Siapa yang tega menjadikan seorang
mayat yang telah berbentuk tulang belulang menjadi model rangka. Ronald
tenggelam dalam pikirannya tidak menyadari seseorang yang sedari tadi
mengawasinya mendekat. Ia terus mendekat kemudian melayangkan benda tumpul yang
berada di tangannya ke kepala Ronald. Ronald mengeluh kesakitan. Matanya terbelalak
saat mengetahui siapa yang memukul kepalanya. Seorang gadis tersenyum sinis.
“
Sayang sekali kau tau rahasiaku. Mungkin akan kujadikan kau yang selanjutnya.”
Ronald kehilangan kesadaran.
****
Setelah
mendengar kisah ini, apakah kau mulai mengamati apa yang ada di sekitarmu.
Perhatikanlah baik-baik siapa tau, apa yang selama ini kau kira benar adalah
hal yang keliru. Dan yang selama ini kau anggap keliru merupakan hal yang
benar. Dua kisah telah kuceritakan padamu. Bagaimana, apakah kini kau telah
sedikit mengingat 7 misteri di sekolahmu? Kalau belum aku akan terus berkisah.
Aku akan terus berkisah sampai kau menyadari dan mengingatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar