Rabu, 28 Oktober 2015

7 Misteri Sekolah (Episode 2)



Pernahkah kau melihat sekelilingmu mengamati apa yang seharusnya ada tapi tak ada. Atau apa yang seharusnya tidak ada tiba-tiba muncul begitu saja tanpa penjelasan. Hari ini aku akan melanjutkan kisahku. Kisah yang mungkin akan sedikit membuat matamu terbuka. Kisah ini pastilah sering kau dengar saat kau mengenakan seragam baik itu putih biru atau putih abu. Kau pastilah pernah mendengarnya. Atau kau masih mengelak tak pernah mendengarnya? Baiklah akan aku ceritakan kisah ini padamu.
Misteri 2 : Model Rangka
            Malam yang menyelimutkan kegelapan pada dunia masih panjang. Baru sekitar 2 jam yang lalu matahari dengan anggunnya menghilangkan diri di ufuk barat. Bulan tak muncul malam itu, mendung tebal menghalangi cahayanya. Angin bertiup sangat kencang. Tampaknya hujan badai akan datang. Di salah satu lorong sekolah, sebuah bayangan berjalan cukup cepat. Tak ada yang tahu bayangan apa itu. Di tengah kegelapan malam yang hanya dicoroti cahaya lampu yang remang, tidak ada yang sempat mengamati pemandangan yang sebenarnya cukup ganjil. Bahkan  sang penjaga sekolah lebih memilih berdiam diri di posnya ketimbang berkeliling sekolah. Bayangan itu jika dilihat lebih jelas membentuk sebuah tubuh manusia bagian atas. Bayangan itu hanya mondar-mandir di salah satu ruangan dan koridor sekolah. Tidak ada yang tahu apa itu dan tidak ada pula yang menyadarinya.

            Pagi datang. Matahari mulai kembali bersinar. Aktivitas orang-orang dimulai lagi. Rutinitas yang biasa dijalani. Bangun dari tidur, dan pergi bekerja atau bersekolah. Di salah satu sekolah pagi itu mungkin menjadi pagi yang paling berisik yang pernah ada. Bisik-bisik beredar dari satu telinga ke telinga lain. Begitu cepat bagai angin badai.
            “ Ada apa?” Ronald bertanya pada Kana.
            “ Kamu belum denger beritanya Ron?” tanya Kana. Ronald mengernyit. Berita apa. Ia bahkan baru saja menginjakan kaki di sekolah, mana mungkin ada berita mampir ke telinganya.
            “ Berita, berita apa?” desak Ronald. Kana mendekatkan bibirnya pada telinga Ronald. Mata Ronald membulat terkejut.
            “ Beneran?” Ia memandang Kana dengan pandangan tidak percaya. Kana mengangguk cepat menambahkan. “ Suer deh, kak Deni sendiri yang ngeliat. Sekarang lagi dipindahin lagi ke lab sains.” Ronald menyibak tubuh Kana yang berdiri di depannya berlari ke arah laboratorium sains. Rasa penasarannya membuatnya bahkan tidak mempedulikan teriakan orang-orang yang tak sengaja tertabrak Ronald.
            Benda yang menjadi berita itu telah kembali ke tempatnya. Berdiri manis di balik lemari kaca. Tidak tampak hal yang aneh, kecuali berita-berita yang menyebar. Ronald mendekat mengamati lebih jeli benda yang jadi bahan pembicaraan itu. Tidak ada yang aneh, model rangka manusia yang sering menjadi praktik biologi itu masih berdiri dengan tegak. Ronald menaikan alisnya. Tidak mungkin benda mati bisa bergerak sendiri. Pastilah ada seseorang yang memindahkannya, sengaja membuat gosip. Ronald menghembuskan napas. Ia membalikan tubuhnya kembali ke kelas. Di saat itulah Ronald merasa ada sesuatu yang memandangnya bahkan mengawasinya. Ronald membalikan tubuhnya. Tidak ada apa-apa. Orang-orang sudah meninggalkan laboratorium karena bel telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Ronald baru menyadari betapa sunyi dan sepinya ruang lab. Ronald kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh arah. Ia benar-benar merasa ada yang mengawasinya. Saat ia menatap model rangka itu entah mengapa tiba-tiba badannya merinding. Ruang bola mata model itu seolah-olah melihatnya dan memandangnya. Ronald bertambah terkejut saat tulang rahang model itu bergerak seolah membuat seringai. Ronald melangkah mundur dan kemudian berlari meninggalkan ruangan.
            “ Ada apa Ron?” Kana kembali bertanya melihat Ronald terengah-engah memasuki kelas. Ronald menggeleng pelan. Ia masih terkejut dengan kejadian yang baru saja ia alami. Sebagian dari dirinya meyakinkan kalau ia hanya berimajinasi, namun sebagian dari dirinya mengatakan  hal yang dialaminya nyata dan bukan ilusi.
            Sepanjang jam pelajaran, tidak ada satupun ucapan dari gurunya yang masuk di otak Ronald. Pikirannya penuh dengan model rangka yang tergeletak di lab sains. Berita tadi pagi dan kejadian yang dialaminya membuatnya tidak dapat mengenyahkan model rangka itu dari pikirannya. Kudengar model rangka di ruang sains semalam berpindah. Aneh sekali padahal nggak ada orang di sekolah semalam. Ternyata benar cerita itu, model itu dirasuki roh halus. Begitulah berita yang tersebar pagi ini.
            “ Gimana kalau kita patroli malem ini?” tanya Ronald saat jam istirahat berlangsung.
            “ Maksudmu?” Kana balas bertanya
            “ Untuk membuktikan apakah model rangka itu benar-benar bergerak atau nggak.” jawab Ronald.
            “ Kau gila! Buat apa aku datang hanya demi melihat hantu rangka. Lebih baik aku tidur di rumah.” tukas Kana.
            “ Kau takut?” ledek Ronald. Kana menggeleng. “ Kau takut.” tuduh lelaki itu pendek membuat Kana meradang.
            “ Baiklah. Baiklah aku ikuti saja rencanamu.” tutur Kana akhirnya, membuat Ronald terkekeh dan tersenyum puas.
****
            Malam kembali datang. Sama seperti malam lainnya hanya saja kali ini cahaya bulan sedikit menyembul dibalik tebalnya awan yang menyelimuti langit malam. Dua orang remaja diam-diam menerobos masuk sekolah. Dua remaja itu Ronald dan Kana. Ronald yang ingin memuaskan rasa penasarannya menyeret Kana ikut menyelidiki model rangka yang menjadi berita. Jarum jam menunjuk angka 11. Ronald masuk ke dalam gedung sekolah yang memang tidak terkunci dan langsung menuju ruang lab sains. Kana mengikuti di belakangnya sesekali mengeluh. Gadis itu benci sekali bersedia menemani Ronald datang ke sekolah malam-malam. Padahal seharusnya ia tengah memejamkan mata berguling dengan mimpi.
            Lab Sains terasa begitu sunyi dan mencekam. Benda-benda yang menjadi bahan praktik masih tersusun dengan rapih di tempatnya. Berjingkat-jingkat Ronald dan Kana mendekati model rangka. Model itu masih berada di tempatnya sama seperti pagi tadi. Tak ada yang aneh. Tidak ada pula pandangan yang seolah mengawasi Ronald. Rondal menghela napas lega. Mungkin pandangan yang ia rasakan tadi hanya imajinasinya saja.
            “ Nggak ada yang aneh dengan model rangka ini. Orang-orang hanya melebih-lebihkan saja.” keluh Kana. Ronald mengangguk setuju.
            “ Ayo pulang , nggak ada hal yang perlu diselidiki lagi.” ucap Ronald. Kana mencibir.
            “ Gayamu sok mirip detektif aja.” Ronald hanya menanggapi Kana dengan cengiran lebar di bibirnya.
            Jam menunjukan angka 12 ketika mereka memutuskan untuk pulang. Saat itulah tiba-tiba saja suasana di lab sains berubah. Terdengar suara berdecit seperti benda di geser. Ronald dan Kana mendadak menghentikan langkah. Ronald kembali merasakan sesuatu memandangnya. Ronald dan Kana sontak membalikan badan. Mata Ronald melotot melihat pemandangan di depannya. Begitu juga dengan Kana yang langsung bergetar memegang erat lengan Ronald. Model rangka itu perlahan-lahan bergerak membuka lemari kaca yang mengurungnya. Tatapan tanpa mata dari model itu membuat tubuh Ronald gemetar. Ronald ingin lari tapi langkahnya terasa berat.
            “ Roon.” cicit Kana.
            “ Lari..” seru Ronald mengumpulkan keberaniannya dan menarik Kana keluar dari lab sains. Ronald menggenggam tangan Kana kencang berlari ke luar sekolah. Ia tidak berani menengok ke belakang. Namun suara panggilan keras dari Kana membuatnya terpaksa berhenti.
            “ Ronald kenapa kamu ninggalin aku” jerit Kana. Ronald membalikan badannya dan terkejut setengah mati. Tangan yang sedari tadi ia genggam bukanlah tangan Kana melainkan tangan model rangka itu. Wajah Ronald begitu dekat dengan wajah model rangka itu. Tulang rahangnya yang bergerak-gerak membuat Ronald bergidig ngeri. Tapi sesaat kemudian Ronald mengernyit. Ia baru saja menyadarinya setelah begitu dekat dengan model rangka itu. Tulang-tulang yang membentuk model itu tidak sama seperti model rangka yang sering ia lihat. Bahkan kini Ronald baru menyadari tangan model rangka yang sedari tadi digenggamnya itu beratnya sama persis dengan tulang manusia. Ketakutakn Ronald mulai meluruh diganti rasa penasaran. Ia mengumpulkan keberaniannya yang sempat tercecer. Ronald mengamati model rangka di hadapannya dan seketika ia terkejut. Model rangka itu tidak terbuat dari plastik, melainkan hal yang sangat tak diduganya. Model rangka itu benar-benar terbuat dari tulang manusia. Ronald mengerti, karena ia sering membantu ayahnya yang bekerja sebagai seorang osteologist (ahli tulang). Ronald kembali memandang model rangka di depannya. Siapa yang tega menjadikan seorang mayat yang telah berbentuk tulang belulang menjadi model rangka. Ronald tenggelam dalam pikirannya tidak menyadari seseorang yang sedari tadi mengawasinya mendekat. Ia terus mendekat kemudian melayangkan benda tumpul yang berada di tangannya ke kepala Ronald. Ronald mengeluh kesakitan. Matanya terbelalak saat mengetahui siapa yang memukul kepalanya. Seorang gadis tersenyum sinis.
            “ Sayang sekali kau tau rahasiaku. Mungkin akan kujadikan kau yang selanjutnya.” Ronald kehilangan kesadaran.
****
            Setelah mendengar kisah ini, apakah kau mulai mengamati apa yang ada di sekitarmu. Perhatikanlah baik-baik siapa tau, apa yang selama ini kau kira benar adalah hal yang keliru. Dan yang selama ini kau anggap keliru merupakan hal yang benar. Dua kisah telah kuceritakan padamu. Bagaimana, apakah kini kau telah sedikit mengingat 7 misteri di sekolahmu? Kalau belum aku akan terus berkisah. Aku akan terus berkisah sampai kau menyadari dan mengingatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar