Ting!
Dering dari ponsel ku berbunyi cukup
nyaring untuk membuatku terbangun di tengah malam. Aku mengernyit melihat notif pada layar ponselku. Dengan malas
aku membuka pesan itu. Siapa malam-malam begini mengirim pesan, aku membatin
sedikit kesal. Aku kembali mengernyit saat membaca pesan dari seseorang dengan
nama Ken. Batinku bertanya-tanya, aku tidak pernah mengenal seseorang dengan
nama Ken, lalu dari mana orang ini mendapatkan ID ku dan mengirimku pesan.
Hai aku ingin berkenalan denganmu.
Tulisnya pada chatroom. Aku membalas
pesannya dengan cukup cepat.
Maaf kamu siapa ya, rasanya aku tidak
mengenalmu. Aku menghembuskan napas
berat. Sekilas aku melihat kembali ponselku. Belum ada tanda pesanku telah
dibacanya. Aku melemparkan ponselku ke sembarang tempat dan kembali menarik
selimut menutupi tubuhku. Hari masih malam. Perlahan aku kembali menutup
mataku. Saatnya melanjutkan mimpi indah.
Aku
kembali terbangun saat mendengar nada dering dari ponselku. Dengan malas aku
berusaha menggapi ponselku yang berada di atas meja. Aku memincingkan pandangan
melihat nama yang tertera di pesan. Aku mengeluh pelan. Lagi-lagi nama itu.
Ken.
Namaku Ken. Temani aku, aku kesepian dan
butuh teman ngobrol. Aku mendengus
sebal membaca pesan darinya. Dia pikir aku siapa?
Kenapa aku harus menjadi teman ngobrolmu. Aku
bukan cewek penhibur yang bisa menghilangkan kesepian tau. Aku membalas pesannya dengan emosi. Tak lama
kemudian ia kembali membalas pesanku.
Tentu saja aku tau, aku nggak bermaksud
menuduhku cewek penghibur. Aku ingin teman ngobrol yang bisa menemaniku. Kamu mau
kan? Aku sungguh-sungguh kesepian. Membaca pesan terbarunya membuatku merenung.
Entah kenapa kata kesepian yang dituliskannya begitu menyentuhku. Mungkin
karena aku juga merasakan hal yang sama, kesepian. Tidak pernah ada orang di
rumahku yang cukup besar. Mama dan Papa terlalu sibuk dengan urusannya
masing-masing melupakan aku. Aku mengetik kata-kata pada ponselku membalas
pesan dari Ken.
Baiklah jika kamu hanya ingin teman ngobrol
aku bersedia jadi teman ngobrolmu. Aku juga sedikit merasa kesepian.
Makasih, aku sangat senang kamu mau jadi
teman ngobrolku.
****
Hai Lala, apa yang sedang kamu lakukan
sekarang? Sebuah pesan dari Ken muncul di ponselku. Aku membaca sekilas
pesan darinya. Sudah 7 hari ini aku dan Ken menjadi teman chating. Cukup banyak
hal yang kami obrolkan. Ken sangat menyenangkan. Ia banyak bercerita tentang
hal-hal yang tidak ku ketahui.
Kenapa kamu nggak membalas pesanku? Ken
kembali menuliskan pesan. Aku mengeluh pelan. Aku sedang mengerjakan ulangan
dan hanya sempat membaca pesanya. Mungkin Ken marah, pikirku. Aku segera
mengetik balasan untuknya.
Sorry
Ken, aku lagi ada ulangan. Aku nggak bisa membalas pesanmu dulu. Tunggu
sebentar ya.
Drrtt, drtt
ponselku kembali bergetar. Aku hanya sempat melirik sekilas layar ponselku yang
bersinar. Pasti itu dari Ken. Aku ingin membuka pesannya, tapi aku tidak bisa
melakukannya karena masih banyak nomor yang belum kukerjakan. Aku kembali
berkonsentrasi pada lembar ulanganku.
Bel
tanda ujian selesai berbunyi di saat aku berhasil memecakan soal terakhir. Aku
meregangkan tubuhku mencoba rileks. Ponselku kembali bergetar. Segera aku
membuka ponselku. Pesan dari Ken begitu banyak. Mungkin dia sedikit kesal,
pikirku. Aku pun segera membaca pesan dari Ken.
Kenapa kamu mengacuhkan aku? Kamu mau
meninggalkanku juga?
Kamu mau membiarkan aku kesepian? Apa
kamu juga akan membuatku sendiri lagi?
Lala
kamu nggak akan pergi dariku kan?
Aku nggak akan membiarkanmu pergi.
Aku ingin bersamamu,
Aku mau menemuimu
Aku akan menjemputmu nanti malam.
Entah mengapa pesan dari Ken membuat tubuhku
merinding. Dengan gemetar aku mengetikan balasan untuknya.
Aku benar-benar minta maaf Ken. Aku bukannya
mengacuhkanmu atau apapun. Hanya saja tadi aku benar-benar nggak bisa menjawab
pesanmu. Aku nggak akan membuatmu kesepian, kita teman kan. Ah kamu juga nggak
perlu ke rumahku, hari ini orang tuaku akan pulang ke rumah. Aku memencet
tombol kirim, bernapas lega. Saat Ken mengatakan akan datang ke rumahku,
perasaanku mengatakan untuk menolaknya. Aku tidak pernah bertemu dengan Ken
secara langsung. Rasanya aneh sekali jika tiba-tiba ia langsung datang ke
rumahku dan menemuiku.
Kamu bohong Lala. Orang tuamu bahkan sudah
lama tidak pulang ke rumah. Mereka juga tidak akan kembali nanti malam. Kenapa
kamu membohongiku? Balasan dari Ken membuatku terpaksa menelan ludah. Dari
mana ia tahu kalau orang tuaku tidak akan kembali nanti malam. Dan dari mana
juga ia tahu sudah lama orang tuaku tidak pulang ke rumah. Seingatku aku hanya
menceritakan pada Ken hal-hal umum yang terjadi di sekolah dan bukan masalah
mengenai orang tuaku.
Ah maksudku, aku dan orang tuaku hari ini
akan pergi ke rumah nenek. Mungkin lain kali saja kau menemuiku Ken.
Ponselku
cepat sekali bergetar. Balasan dari Ken.
Kamu berbohong lagi Lala. Kamu pikir
aku nggak akan tau kamu berbohong? Aku tau Lala, aku tau semua yang kamu
lakukan jadi jangan pernah berpikir untuk membohongiku. Aku akan benar-benar
menemuimu. Tunggu aku kawan.
Kali ini aku benar-benar ketakutan.
Pesan-pesan dari Ken yang semula begitu hangat dan menentramkan mendadak
berubah begitu menakutkan. Keringat dingin mengucur dari tubuhku. Jantungku
berdetak begitu kencang. Aku mengambil napas dalam mencoba berpikir dengan
jernih. Ken tidak mungkin datang menemuiku, dia bahkan tidak tahu dimana aku
tinggal. Jadi mana mungkin ia tahu bagaimana caranya menemuiku. Aku tersenyum,
benar Ken tak mungkin menemuiku, ia hanya iseng saja berkata menemuiku.
Bodohnya aku tertipu dan ketakutan oleh pesan-pesannya.
Drtt,
drtt ponselku bergetar. Aku membaca pesan yang tertera di layar. Mendadak
jantungku rasanya berhenti berdetak. Aku membeku di tempat. Ketakutakn yang
sempat hilang kembali menyelimuti diriku. Bagaimana mungkin?
Tenang saja Lala aku tau dimana kamu
tinggal, dan aku bukan orang iseng. Aku pasti menemuimu. Pasti. Kamu hanya
perlu menungguku saja. Begitulah pesan yang tertulis di layar ponselku,
membuatku tak bisa bergerak dari tempatku. Aku mengedarkan padangan ke seluruh
arah. Bagaiman mungkin ia tahu apa yang aku pikirkan. Apakah Ken berada di
dekatku? Belum sempat terjawab pertanyaanku, ponselku kembali bergetar.
Kenapa kamu mengedarkan pandangan ke
seluruh arah? Aku memang nggak berada di dekatmu, tapi aku tau segala hal
tentangmu. Jangan khawatir sebentar lagi aku akan berada di dekatmu. Aku
berseru keras membaca pesan dari Ken. Ini benar-benar keterlaluan. Aku berlari.
Aku ingin pulang ke rumah dengan segera, menutup semua jendela dan pintu, sehingga tidak akan ada
yang bisa masuk, termasuk Ken.
Kenapa kamu berlari La? tenang saja aku
akan menemuimu nanti malam. Kamu bisa bersiap terlebih dahulu. Ini akan menjadi
pertemuan yang menyenangkan.
Sekarang aku
benar-benar ketakutan. Pesan-pesan Ken terlalu mengerikan untuk kubaca. Kakiku
bahkan tidak bisa berhenti gemetar. Suasana sunyi di rumahku justru membuatku
semakin gemetar. Aku hanya meringkuk di sofa.
Kamu nggak perlu menutup semua jendela dan
pintu di rumahmu Lala. Apa sebegitu tidak inginkah kamu menemuiku? Sayangnya
aku sangat ingin menemuimu La. Aku ingin bersamamu. Bukankah kita sama-sama
kesepian? Aku hanya dapat membaca pesan dari Ken tanpa mampu menjawabnya.
Tanganku terlalu gemetar dan terlalu lemas. Aku juga tidak tahu apa yang harus
aku katakan padanya.
Matahari
telah tenggelam di ufuk barat meninggalkan cahaya menyambut malam yang sunyi.
Suara-suara jangkrik yang biasanya terdengar, entah mengapa malam ini tak
terdengar bunyinya. Suasana begitu mencekam. Aku mengambil remote Tv yang ada
di depanku. Suara televisi mungkin dapat mengusir sepi dan sunyi. Aku memencet-mencet
tombol remote mengganti saluran. Tanganku mendadak berhenti memencet tombol
saat aku melihat berita yang membuat bulu kudukku berdiri. Judul berita yang
aku baca di tv sungguh membuatku terkejut sekaligus ketakutan, ditambah lagi
penjelasan dari pembawa berita membuatku tak mampu berkata-kata lagi.
Seorang mayat lelaki ditemukan di sebuah
kamar dengan kondisi mengenaskan. Diduga lelaki tersebut meninggal 7 hari yang
lalu. Lelaki dengan identitas bernama Ken ini diduga meninggal karena bunuh
diri. Di samping mayatnya ditemukan catatan yang diduga pesan terakhir korban.
Catatan itu hanya bertuliskan satu kalimat. Aku Kesepian.
Suara
pembawa berita itu entah mengapa terdegar begitu horor di telingaku. Saat
selesai membacakan berita itu, mata pembawa berita itu bertemu mataku. Seolah
ia benar-benar sengaja memandangku. Aku tidak tahu apakah ini hanya imajinasiku
belaka, namun aku merasa pembawa berita itu menyeringai kepadaku. Menakutkan. Yang
membuatku lebih merasa ketakutan adalah kata-kata yang selanjutnya ia ucapkan.
Dia telah datang.
Aku membeku. Tiba-tiba saja pintu
rumahku di gedor. Aku memejamkan mata. Aku tidak mau membukanya. Pintu rumahku
terus saja digedor menimbulkan bunyi berisik. Aku tidak peduli, aku tidak akan
membukanya. Ketakutan terlanjur menyelimutiku. Drtt ponselku kembali bergetar.
Aku membuka pesan dengan gemetar.
Aku sudah berada di depan rumahmu.
Aku menjerit
tertahan. Segera kutarik selimutku menutupi tubuhku. Tidak ini tidak mungkin.
Aku sudah masuk ke rumahmu. Aku terpaksa
masuk, karena kau tidak membukakan pintu.
Pesan dari Ken
muncul begitu saja bahkan tanpa perlu aku membukanya.
Aku sudah berada di belakangmu. Kenapa tak
kau buka saja selimutmu.
Napasku
tersengal. Ini tidak mungkin.
Cobalah kau buka selimutmu. Maka kau akan
tahu apakah ini mungkin atau tidak.
Aku masih membatu. Entah berapa menit telah berlalu.
Tak ada lagi pesan mengerikan dari Ken. Mungkin ia lelah. Atau mungkin aku yang
lelah sehingga terlalu paranoid dengan segala pesan yang dikirmkannya. Malam
masih panjang, suara jangkrik masih tidak terdengar. Sunyi. Ketakutanku mulai
sedikit mereda. Perlahan aku membuka selimutku. Namun alangkah terkejutnya aku.
“
Aku datang menjemputmu Lala.” seorang lelaki menyeringai seram padaku. Seluruh
tubuhnya dipenuhi darah mengeluarkan bau yang tak sedap. Terbata-bata aku mengucapkan
satu naman.
“ K
...Ken?” Lelaki itu kembali menyeringai. Duniaku mendadak hitam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar