Senin, 26 Oktober 2015

Chatting



            Ting! Dering dari ponsel ku berbunyi cukup nyaring untuk membuatku terbangun di tengah malam. Aku mengernyit melihat notif pada layar ponselku. Dengan malas aku membuka pesan itu. Siapa malam-malam begini mengirim pesan, aku membatin sedikit kesal. Aku kembali mengernyit saat membaca pesan dari seseorang dengan nama Ken. Batinku bertanya-tanya, aku tidak pernah mengenal seseorang dengan nama Ken, lalu dari mana orang ini mendapatkan ID ku dan mengirimku pesan.

            Hai aku ingin berkenalan denganmu. Tulisnya pada chatroom. Aku membalas pesannya dengan cukup cepat.
            Maaf kamu siapa ya, rasanya aku tidak mengenalmu.  Aku menghembuskan napas berat. Sekilas aku melihat kembali ponselku. Belum ada tanda pesanku telah dibacanya. Aku melemparkan ponselku ke sembarang tempat dan kembali menarik selimut menutupi tubuhku. Hari masih malam. Perlahan aku kembali menutup mataku. Saatnya melanjutkan mimpi indah.
            Aku kembali terbangun saat mendengar nada dering dari ponselku. Dengan malas aku berusaha menggapi ponselku yang berada di atas meja. Aku memincingkan pandangan melihat nama yang tertera di pesan. Aku mengeluh pelan. Lagi-lagi nama itu. Ken.
            Namaku Ken. Temani aku, aku kesepian dan butuh teman ngobrol.  Aku mendengus sebal membaca pesan darinya. Dia pikir aku siapa?
            Kenapa aku harus menjadi teman ngobrolmu. Aku bukan cewek penhibur yang bisa menghilangkan kesepian tau.  Aku membalas pesannya dengan emosi. Tak lama kemudian ia kembali membalas pesanku.
            Tentu saja aku tau, aku nggak bermaksud menuduhku cewek penghibur. Aku ingin teman ngobrol yang bisa menemaniku. Kamu mau kan? Aku sungguh-sungguh kesepian.  Membaca pesan terbarunya membuatku merenung. Entah kenapa kata kesepian yang dituliskannya begitu menyentuhku. Mungkin karena aku juga merasakan hal yang sama, kesepian. Tidak pernah ada orang di rumahku yang cukup besar. Mama dan Papa terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing melupakan aku. Aku mengetik kata-kata pada ponselku membalas pesan dari Ken.
            Baiklah jika kamu hanya ingin teman ngobrol aku bersedia jadi teman ngobrolmu. Aku juga sedikit merasa kesepian.  
            Makasih, aku sangat senang kamu mau jadi teman ngobrolku.
****
            Hai Lala, apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Sebuah pesan dari Ken muncul di ponselku. Aku membaca sekilas pesan darinya. Sudah 7 hari ini aku dan Ken menjadi teman chating. Cukup banyak hal yang kami obrolkan. Ken sangat menyenangkan. Ia banyak bercerita tentang hal-hal yang tidak ku ketahui.
            Kenapa kamu nggak membalas pesanku? Ken kembali menuliskan pesan. Aku mengeluh pelan. Aku sedang mengerjakan ulangan dan hanya sempat membaca pesanya. Mungkin Ken marah, pikirku. Aku segera mengetik balasan untuknya.
            Sorry Ken, aku lagi ada ulangan. Aku nggak bisa membalas pesanmu dulu. Tunggu sebentar ya.
            Drrtt, drtt ponselku kembali bergetar. Aku hanya sempat melirik sekilas layar ponselku yang bersinar. Pasti itu dari Ken. Aku ingin membuka pesannya, tapi aku tidak bisa melakukannya karena masih banyak nomor yang belum kukerjakan. Aku kembali berkonsentrasi pada lembar ulanganku.
            Bel tanda ujian selesai berbunyi di saat aku berhasil memecakan soal terakhir. Aku meregangkan tubuhku mencoba rileks. Ponselku kembali bergetar. Segera aku membuka ponselku. Pesan dari Ken begitu banyak. Mungkin dia sedikit kesal, pikirku. Aku pun segera membaca pesan dari Ken.
            Kenapa kamu mengacuhkan aku? Kamu mau meninggalkanku juga?
            Kamu mau membiarkan aku kesepian? Apa kamu juga akan membuatku sendiri lagi?
Lala kamu nggak akan pergi dariku kan?
            Aku nggak akan membiarkanmu pergi. Aku ingin bersamamu,
            Aku mau menemuimu
            Aku akan menjemputmu nanti malam.
Entah mengapa pesan dari Ken membuat tubuhku merinding. Dengan gemetar aku mengetikan balasan untuknya.
            Aku benar-benar minta maaf Ken. Aku bukannya mengacuhkanmu atau apapun. Hanya saja tadi aku benar-benar nggak bisa menjawab pesanmu. Aku nggak akan membuatmu kesepian, kita teman kan. Ah kamu juga nggak perlu ke rumahku, hari ini orang tuaku akan pulang ke rumah. Aku memencet tombol kirim, bernapas lega. Saat Ken mengatakan akan datang ke rumahku, perasaanku mengatakan untuk menolaknya. Aku tidak pernah bertemu dengan Ken secara langsung. Rasanya aneh sekali jika tiba-tiba ia langsung datang ke rumahku dan menemuiku.
            Kamu bohong Lala. Orang tuamu bahkan sudah lama tidak pulang ke rumah. Mereka juga tidak akan kembali nanti malam. Kenapa kamu membohongiku? Balasan dari Ken membuatku terpaksa menelan ludah. Dari mana ia tahu kalau orang tuaku tidak akan kembali nanti malam. Dan dari mana juga ia tahu sudah lama orang tuaku tidak pulang ke rumah. Seingatku aku hanya menceritakan pada Ken hal-hal umum yang terjadi di sekolah dan bukan masalah mengenai orang tuaku.
            Ah maksudku, aku dan orang tuaku hari ini akan pergi ke rumah nenek. Mungkin lain kali saja kau menemuiku Ken.
            Ponselku cepat sekali bergetar. Balasan dari Ken.
            Kamu berbohong lagi Lala. Kamu pikir aku nggak akan tau kamu berbohong? Aku tau Lala, aku tau semua yang kamu lakukan jadi jangan pernah berpikir untuk membohongiku. Aku akan benar-benar menemuimu. Tunggu aku kawan.
            Kali ini aku benar-benar ketakutan. Pesan-pesan dari Ken yang semula begitu hangat dan menentramkan mendadak berubah begitu menakutkan. Keringat dingin mengucur dari tubuhku. Jantungku berdetak begitu kencang. Aku mengambil napas dalam mencoba berpikir dengan jernih. Ken tidak mungkin datang menemuiku, dia bahkan tidak tahu dimana aku tinggal. Jadi mana mungkin ia tahu bagaimana caranya menemuiku. Aku tersenyum, benar Ken tak mungkin menemuiku, ia hanya iseng saja berkata menemuiku. Bodohnya aku tertipu dan ketakutan oleh pesan-pesannya.
            Drtt, drtt ponselku bergetar. Aku membaca pesan yang tertera di layar. Mendadak jantungku rasanya berhenti berdetak. Aku membeku di tempat. Ketakutakn yang sempat hilang kembali menyelimuti diriku. Bagaimana mungkin?
            Tenang saja Lala aku tau dimana kamu tinggal, dan aku bukan orang iseng. Aku pasti menemuimu. Pasti. Kamu hanya perlu menungguku saja. Begitulah pesan yang tertulis di layar ponselku, membuatku tak bisa bergerak dari tempatku. Aku mengedarkan padangan ke seluruh arah. Bagaiman mungkin ia tahu apa yang aku pikirkan. Apakah Ken berada di dekatku? Belum sempat terjawab pertanyaanku, ponselku kembali bergetar.
            Kenapa kamu mengedarkan pandangan ke seluruh arah? Aku memang nggak berada di dekatmu, tapi aku tau segala hal tentangmu. Jangan khawatir sebentar lagi aku akan berada di dekatmu. Aku berseru keras membaca pesan dari Ken. Ini benar-benar keterlaluan. Aku berlari. Aku ingin pulang ke rumah dengan segera, menutup semua  jendela dan pintu, sehingga tidak akan ada yang bisa masuk, termasuk Ken.
            Kenapa kamu berlari La? tenang saja aku akan menemuimu nanti malam. Kamu bisa bersiap terlebih dahulu. Ini akan menjadi pertemuan yang menyenangkan.
            Sekarang aku benar-benar ketakutan. Pesan-pesan Ken terlalu mengerikan untuk kubaca. Kakiku bahkan tidak bisa berhenti gemetar. Suasana sunyi di rumahku justru membuatku semakin gemetar. Aku hanya meringkuk di sofa.
            Kamu nggak perlu menutup semua jendela dan pintu di rumahmu Lala. Apa sebegitu tidak inginkah kamu menemuiku? Sayangnya aku sangat ingin menemuimu La. Aku ingin bersamamu. Bukankah kita sama-sama kesepian? Aku hanya dapat membaca pesan dari Ken tanpa mampu menjawabnya. Tanganku terlalu gemetar dan terlalu lemas. Aku juga tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya.
            Matahari telah tenggelam di ufuk barat meninggalkan cahaya menyambut malam yang sunyi. Suara-suara jangkrik yang biasanya terdengar, entah mengapa malam ini tak terdengar bunyinya. Suasana begitu mencekam. Aku mengambil remote Tv yang ada di depanku. Suara televisi mungkin dapat mengusir sepi dan sunyi. Aku memencet-mencet tombol remote mengganti saluran. Tanganku mendadak berhenti memencet tombol saat aku melihat berita yang membuat bulu kudukku berdiri. Judul berita yang aku baca di tv sungguh membuatku terkejut sekaligus ketakutan, ditambah lagi penjelasan dari pembawa berita membuatku tak mampu berkata-kata lagi.
            Seorang mayat lelaki ditemukan di sebuah kamar dengan kondisi mengenaskan. Diduga lelaki tersebut meninggal 7 hari yang lalu. Lelaki dengan identitas bernama Ken ini diduga meninggal karena bunuh diri. Di samping mayatnya ditemukan catatan yang diduga pesan terakhir korban. Catatan itu hanya bertuliskan satu kalimat. Aku Kesepian.
            Suara pembawa berita itu entah mengapa terdegar begitu horor di telingaku. Saat selesai membacakan berita itu, mata pembawa berita itu bertemu mataku. Seolah ia benar-benar sengaja memandangku. Aku tidak tahu apakah ini hanya imajinasiku belaka, namun aku merasa pembawa berita itu menyeringai kepadaku. Menakutkan. Yang membuatku lebih merasa ketakutan adalah kata-kata yang selanjutnya ia ucapkan.
            Dia telah datang.
Aku membeku. Tiba-tiba saja pintu rumahku di gedor. Aku memejamkan mata. Aku tidak mau membukanya. Pintu rumahku terus saja digedor menimbulkan bunyi berisik. Aku tidak peduli, aku tidak akan membukanya. Ketakutan terlanjur menyelimutiku. Drtt ponselku kembali bergetar. Aku membuka pesan dengan gemetar.
            Aku sudah berada di depan rumahmu.
            Aku menjerit tertahan. Segera kutarik selimutku menutupi tubuhku. Tidak ini tidak mungkin.
            Aku sudah masuk ke rumahmu. Aku terpaksa masuk, karena kau tidak membukakan pintu.
            Pesan dari Ken muncul begitu saja bahkan tanpa perlu aku membukanya.
            Aku sudah berada di belakangmu. Kenapa tak kau buka saja selimutmu.
            Napasku tersengal. Ini tidak mungkin.
            Cobalah kau buka selimutmu. Maka kau akan tahu apakah ini mungkin atau tidak.
           

Aku masih membatu. Entah berapa menit telah berlalu. Tak ada lagi pesan mengerikan dari Ken. Mungkin ia lelah. Atau mungkin aku yang lelah sehingga terlalu paranoid dengan segala pesan yang dikirmkannya. Malam masih panjang, suara jangkrik masih tidak terdengar. Sunyi. Ketakutanku mulai sedikit mereda. Perlahan aku membuka selimutku. Namun alangkah terkejutnya aku.
            “ Aku datang menjemputmu Lala.” seorang lelaki menyeringai seram padaku. Seluruh tubuhnya dipenuhi darah mengeluarkan bau yang tak sedap. Terbata-bata aku mengucapkan satu naman.
            “ K ...Ken?” Lelaki itu kembali menyeringai. Duniaku mendadak hitam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar