Terkadang terlintas dibenakku, seberapa efektif kah
waktu yang telah aku gunakan selama hidup ini. Apakah waktu itu habis, mengikis
umurku dengan percuma? Atau adakah secuil manfaat yang kutorehkan selama aku
menghembuskan napas di dunia ini. Selama mata ini sudah menyaksikan dunia apa
yang telah kulakukan. Apa yang telah kuhasilkan. Apakah aku masuk ke dalam
golongan orang-orang yang untung. Atau sebaliknya, apakah justru aku masuk ke
dalam orang yang merugi. Merugi atas waktu yang dibuang sia-sia. Lalu ketika
tubuh ini mulai menua, rambut ini mulai memutih akankah aku menyesali waktu
yang selama ini telah kulewati.
Terkadang sering aku berpikir seperti itu. Tak
sering memang. Namun selintas pikiran itu menggelitik hatiku. Membuatku terdiam
dalam perenungan yang dalam. Sudahkah aku menggunakan waktuku dengan
sebaik-baiknya? Dalam 24 jam hari ini, apa yang sudah kuhasilkan apa yang sudah
kulakukan. Apakah hal yang kulakukan hari ini akan membawa manfaat bagi orang
lain, apakah hal yang kulakukan hari ini tak akan ku sesali suatu saat nanti.
Dan saat berbicara mengenai waktu, tentu saja tak dapat kupungkiri sesuatu yang membuatku ketakutan, sesuatu yang bahkan bisa membuat bulu kudukku berdiri. Satu kata namun cukup untuk membungkam semua. Kematian. Ketika kematian itu datang, siapkah aku menyambutnya dengan segala pencapaian yang telah kuturohkan. Ketika kematian itu datang bisakah aku memohon agar waktuku diperpanjang. Tentu tidak bukan. Tapi, entah mengapa tak jarang aku berharap kematian segera datang, namun tak jarang pula aku justru ketakutan. Jika kematian datang sekarang apa yang bisa kubawa sebagai bekalku. Sudahkah aku cukup berbuat kebaikan untuk orang-orang di sekitarku. Sudahkah aku memanfaatkan waktu yang diberikan padaku secara maksimal. Jika tidak lalu bagaimana aku harus menyambut kematian? Haruskah aku berlari menghindar? Sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi dan tidak mungkin dapat dilakukan oleh semua orang.
Bicara mengenai waktu yang telah kuhabiskan selama
ini mungkin akan membosankan. Karena aku sendiri pun tahu banyak waktuku yang
terbuang sia-sia. Tak berguna. Saat menyadarinya sedih memang, tapi tak ada hal
yang dapat kulakukan untuk mengembalikannya. Tidak dapat meskipun itu hanya
sedetik lalu. Meskipun aku berharap, berdoa siang malam, waktu yang telah
kubuang tak akan pernah kembali. Karenanya biarlah waktu yang telah lewat. Tak
perlu ada penyesalan. Hanya perlu pembelajaran, sehingga di masa depan tak ada
lagi penyesalan tak ada lagi harapan untuk memutar kembali waktu. Sehingga di
masa depan nanti hanya ada senyuman dan tak akan ada lagi air mata. Aku harap
waktuku cukup panjang untukku mulai mengubah diri menjadi lebih baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar