Rabu, 21 Oktober 2015

Renungan Tentang Waktu


Terkadang terlintas dibenakku, seberapa efektif kah waktu yang telah aku gunakan selama hidup ini. Apakah waktu itu habis, mengikis umurku dengan percuma? Atau adakah secuil manfaat yang kutorehkan selama aku menghembuskan napas di dunia ini. Selama mata ini sudah menyaksikan dunia apa yang telah kulakukan. Apa yang telah kuhasilkan. Apakah aku masuk ke dalam golongan orang-orang yang untung. Atau sebaliknya, apakah justru aku masuk ke dalam orang yang merugi. Merugi atas waktu yang dibuang sia-sia. Lalu ketika tubuh ini mulai menua, rambut ini mulai memutih akankah aku menyesali waktu yang selama ini telah kulewati.
Terkadang sering aku berpikir seperti itu. Tak sering memang. Namun selintas pikiran itu menggelitik hatiku. Membuatku terdiam dalam perenungan yang dalam. Sudahkah aku menggunakan waktuku dengan sebaik-baiknya? Dalam 24 jam hari ini, apa yang sudah kuhasilkan apa yang sudah kulakukan. Apakah hal yang kulakukan hari ini akan membawa manfaat bagi orang lain, apakah hal yang kulakukan hari ini tak akan ku sesali suatu saat nanti.



Dan saat berbicara mengenai waktu, tentu saja tak dapat kupungkiri sesuatu yang membuatku ketakutan, sesuatu yang bahkan bisa membuat bulu kudukku berdiri. Satu kata namun cukup untuk membungkam semua. Kematian. Ketika kematian itu datang, siapkah aku menyambutnya dengan segala pencapaian yang telah kuturohkan. Ketika kematian itu datang bisakah aku memohon agar waktuku diperpanjang. Tentu tidak bukan. Tapi, entah mengapa tak jarang aku berharap kematian segera datang, namun tak jarang pula aku justru ketakutan. Jika kematian datang sekarang apa yang bisa kubawa sebagai bekalku. Sudahkah aku cukup berbuat kebaikan untuk orang-orang di sekitarku. Sudahkah aku memanfaatkan waktu yang diberikan padaku secara maksimal. Jika tidak lalu bagaimana aku harus menyambut kematian? Haruskah aku berlari menghindar? Sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi dan tidak mungkin dapat dilakukan oleh semua orang.
Bicara mengenai waktu yang telah kuhabiskan selama ini mungkin akan membosankan. Karena aku sendiri pun tahu banyak waktuku yang terbuang sia-sia. Tak berguna. Saat menyadarinya sedih memang, tapi tak ada hal yang dapat kulakukan untuk mengembalikannya. Tidak dapat meskipun itu hanya sedetik lalu. Meskipun aku berharap, berdoa siang malam, waktu yang telah kubuang tak akan pernah kembali. Karenanya biarlah waktu yang telah lewat. Tak perlu ada penyesalan. Hanya perlu pembelajaran, sehingga di masa depan tak ada lagi penyesalan tak ada lagi harapan untuk memutar kembali waktu. Sehingga di masa depan nanti hanya ada senyuman dan tak akan ada lagi air mata. Aku harap waktuku cukup panjang untukku mulai mengubah diri menjadi lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar